Monday, November 6, 2006

sharing seputar bayi ngga masuk jalan lahir dari milist kehamilan

Sering banget ya denger bayi sungsang atau ngga masuk jalan lahir, dulu ibu juga pernah tapi alhamdulillah tidak sampe operasi, berikut tanya jawab sharing di milist kehamilan … semoga bisa sebagai informasi tambahan.

“Natalie weddingclip.net” <nataliasetiadi@yahoo.com> wrote:
Hi teman2, salam kenal buat semuanya

Ada yg bisa tolongin saya untuk mendapatkan solusi terbaik?

Saat ini saya sudah hamil 38 wks.. dan hari Selasa yg lalu dokter mengatakan kalau janin nya belom masuk ke rongga panggul. Saya sangat merasa depresi, karna berbagai hal sudah dicoba, seperti nungging, jalan, jongkok, dll.

Kapan seharusnya janin sudah memasuki jalan lahirnya? Apa ada yg bisa memberitahu saya cara supaya janin bisa masuk ke jalan lahirnya dengan cepat? apakah kehamilan saya harus berakhir dengan operasi caesar?

Thanks sebelumnya.

Natalie

Posted by: “eandha” inda_2001st@yahoo.com   inda_2001st
Thu Nov 2, 2006 4:47 am (PST)
Hai Natalie…

Pengalamanku waktu itu pas dah di week 39 belum juga
masuk panggul…sebenarnya dah ketauan dari beberapa
minggu sebelumnya..dokterku bilang pada minggu ke 36
seharusnya posisi bayi sudah siap meluncur..udah
settle gitu di rongga panggul…

Waktu itu ku dah coba nungging2, ngepel, jalan2…tapi
sampe minggu 39 belum juga masuk…pas lagi kontrol ke
dokter minggu 39 ku langsung diputuskan operasi saat
itu juga..karena konsisi bayinya udah gak stabil di
dalam perut.

Tapi menurutku sih…semua bisa aja terjadi mbak. gak
selalu juga berakhir dengan operasi..soalnya ada juga
kan yang detik2 mau melahirkan anaknya masih
sungsang..tapi gak berapa lama langsung normal posisi
nya dah lahir normal…jadi ya tetap aja berusaha
sambil juga mempersiapkan diri untuk kemungkinan
sesar. Yang penting ibu dan bayi sehat..

oke, segitu dulu yah, maaf kalau tidak banyak
membantu.

salam
inda

Posted by: “Dee J” dee_j88@yahoo.com
Thu Nov 2, 2006 4:48 am (PST)
hai Natalie,

Aku dulu jg begitu, udh waktunya lahir tp babynya blm masuk2 jalan lahir… aku cek ke dokter laen ternyata babyku tuh kelilit tali puser ( makanya dia gak masuk2 rongga panggul ) so kata dokter kalo tali puserku panjang, mungkin msh bisa lahir normal, tp kalo pendek resikonya gede, bisa2 baby kejiret atau ‘bawah’ kena ‘atas’ kena ( mksdku udh usaha normal tp ujung2nya kudu operasi ) so suamiku gak mau ambil resiko, takut babynya kenapa-napa….jd setelah mengalami stress yg amat sangat, kita putuskan untuk operasi ajah.Kasus kayak gini banyak jg terjadi loh.

Dee J

Posted by: “Maya Nilamsari” maya_nilamsari@yahoo.com   maya_nilamsari
Thu Nov 2, 2006 4:45 am (PST)
Hallo Mbak Natalie,

kalau pengalaman kakak saya kemarin disuruh sujud setiap pagi selama kurang lebih 3 menit, sama banyak jalan pagi (kira2 1/2 jam). Alhasil dalam waktu gak lebih dari 2 minggu bayinya langsung masuk ke rongga panggul. Kalau operasi caesar biasanya sudah diminta pas umur 38 minggu an.

Salam,

Maya

Posted by NieOsa at 02:33:00 | Permalink | Comments (1) »

Tuesday, September 19, 2006

Agar ASI lancar di awal masa menyusui

(Diterjemahkan dari artikel “How to Get Your Milk Supply Off to a Good Start”)
Lisa Marasco, IBCLC
Santa Maria CA USA
Diana West, IBCLC
Long Valley NJ USA
From: NEW BEGINNINGS, Vol. 22 No. 4, July-August 2005, pp. 142-147

Idealnya proses menyusui dapat segera dilakukan begitu bayi lahir. Bayi yang lahir cukup bulan akan memiliki naluri utk menyusu pada ibunya di 20 - 30 menit setelah ia lahir. Itupun jika ia tidak mengantuk akibat pengaruh obat ataupun anastesi yang diberikan ke ibu saat proses melahirkan. Di jam-jam pertama, bayi akan relatif tenang, terjaga dan memiliki kemampuan bawaan utk melakukan proses latch-on (proses masuknya sebagian besar ke dalam mulut bayi hingga ia dapat “mengunci” dan menyusu dg baik) dan menyusu dengan baik.  Riset menunjukkan bahwa bayi baru lahir yang diletakkan di perut ibu sesaat setelah ia lahir, akan mampu mencari payudara ibu dan menyusu dengan baik dalam kurun waktu kurang dari 50 menit. Memisahkan bayi dari ibunya sebelum hal tsb dilakukan akan membuat bayi kehilangan kesempatan besar. Bayi akan mengantuk dan kehilangan minatnya utk menyusu pada ibunya. Akibatnya proses inisiasi menyusui mengalami hambatan (Righard and Alade 1990; Widstrom et al. 1990; Wang and Wu 1994). Oleh karena itu, pastikan bahwa bayi mendapatkan kesempatan utk melakukan proses inisiasi menyusui paling tidak satu jam pertama setelah ia lahir. Hal ini akan menunjang proses lancarnya ASI di kemudian hari.

Meskipun proses menyusui dapat segera ibu lakukan setelah bayi lahir, beberapa bayi nampak tidak dapat latch on dengan baik setelah ia lahir. Hal ini disebabkan pengaruh epidural atau anastesi lainnya yang diberikan ibu selama masa melahirkan. Beberapa jenis anastesi mengurangi refleks bayi mencari payudara ibu dan menyusu pada ibunya, juga meningkatnya temperatur tubuh bayi dan tangisan bayi (Ransjo-Arvidson et al. 2001).

Namun perlu dipahami bahwa jika bayi tidak dapat menyusu setelah ia lahir bukan akhir dari segalanya. Segera minta bantuan dari ahli laktasi jika bayi sulit menyusui atau melakukan latch on. Sehingga problem tersebut dapat segera diatasi. Selanjutnya, semakin seringnya bayi disusui makin meningkatkan reseptor hormon prolaktin (Lihat kolom di halaman 144.)

Jika menyusui di jam-jam pertama kelahiran tidak dapat dilakukan, alternatif terbaik berikutnya adalah memerah ASI atau pompa ASI selama 10-20 menit tiap 2 hingga 3 jam sekali, hingga bayi dapat menyusu. Tindakan tsb dapat membantu memaksimalkan reseptor prolaktin dan meminimalkan efek samping dari tertundanya proses menyusui oleh bayi. Jika ibu melahirkan di RS atau di klinik melahirkan, biasanya disediakan breastpump elektrik dan ibu butuh bantuan menggunakannya. Perawat, konsultan laktasi ataupun bidan dapat membantu ibu dalam menggunakan alat tsb.

Suasana yang menyenangkan, tenang dan nyaman akan membantu saat-saat berduaan dan terciptanya bonding antara ibu dan bayi. Meskpun tidak mudah membuat suasana spt it di RS, namun adanya dukungan, support dan kenyamanan akan membantu ibu dalam proses makin lancarnya produksi ASI.

    Menyusui Pasca Melahirkan dengan Operasi Cesar

Ibu yang melahirkan dengan cara operasi cesar (c-sections) seringkali sulit menyusui bayinya segera setelah ia lahir. Terutama jika ibu diberikan anastesi umu. Ibu relatif tidak sadar untuk dapat mengurus bayinya di jam pertama setelah bayi lahir. Meskipun ibu mendapat epidural yang membuatnya tetap sadar, kondisi luka operasi di bagian perut relatif membuat proses menyusui sedikit terhambat. Sementara itu, bayi mungkin mengantuk dan tidak responsif untuk menyusu, terutama jika ibu mendapatkan obat-obatan penghilang sakit sebelum operasi. Beberapa penelitian menyimpulkan bahwa proses melahirkan dengan cesar akan menghambat terbentuknya produksi ASI (Dewey et al. 2003; Grajeda and Perez-Escamilla 2002; Rowe-Murray Fisher 2002; Hartmann 1987). Meskipun demikian, menyusui sesering mungkin setelah proses kelahiran dg cesar akan meminimalisasi masalah-masalah tsb. Bahkan beberapa ibu yang melahirkan dg cesar memiliki produksi ASI yang berlimpah.

Kehebatan Kolostrum

Tiap ibu perlu mengetahui dan menghargai betul betapa berharganya kolostrum. Kolostrum, cairan bening kekuningan yang sering disebut “Pre-milk”, akan diproduksi di hari-hari pertama menyusui. Kolostrum, kemudian disusul dengan ASI “matang”, akan menjaga dan melindungi bayi seperti plasenta saat ia dalam kandungan ibu. Kolostrum relatif rendah lemak dan karbohidrat, tetapi kaya akan protein. Kandungan tsb sangat tepat sesuai dengan kebutuhan bayi di hari-hari pertama. Kolostrum mudah dicerna dan mengandung sel-sel hidup yang memberikan proteksi terhadap berbagai bakteri, virus dan alergen. Kolostrum ini akan melindungi bagian dalam usus bayi dan menjaganya dari absorpsi substansi-substansi yang dapat menyebabkan terjadinya alergi. Faktor imun seperti IgG dan IgA sangat banyak jumlahnya dalam kolostrum dibandingkan dengan ASI matang.

Kedua zat imun tsb akan menstimulasi dan meningkatkan sistem imun bayi. Dan penelitian menunjukkan bahwa manfaat tsb akan terus didapatkan bayi selama hidupnya. Lebih jauh lagi, kolstrum beraksi sebagai laxative (“obat pencuci perut”) yg efektif, mulai dari membuang meconium dari usus, hingga memecahkan bilirubin (substansi yg dapat membuat bayi menjadi kuning).  Dua minggu kemudian, kolostrum akan berubah komposisi menjadi ASI matang. Namun kondisi tsb tidak terjadi secara sekaligus. Kolostrum akan secara perlahan berubah menjadi ASI matang. Karena itu ASI yang dihasilkan di saat-saat tsb terlihat lebih kekuningan dibandingkan ASI yg dihasilkan kemudian.

Terkadang kita jumpai beberapa ibu yang belum dapat menghasilkan ASI di awal setelah kelahiran bayinya. Ibu-ibu yang tidak melihat kolostrum saat menyusui bayinya akan merasa khawatir jika dirinya tidak dapat memproduksi ASI. Namun, kenyataan bahwa tidak terlihatnya ASI saat bayi menyusu, bukan berarti ASI (kolostrum) tidak keluar. Kolostrum yang dihasilkan ibu umumnya diproduksi dalam jumlah yang sangat kecil, yaitu sekitar 7.4 sendok teh (36.23 ml) per harinya. Atau sekitar 1.4 hingga 2.8 sendok teh (6.86-13.72 ml) sekali menyusu. Dan jumlah yang sangat sedikit tsb akan segera diminum dan ditelan oleh bayi (Hartmann 1987; Hartmann and Prosser 1984; Houston et al. 1983). Kenyataan bahwa warna dari kolostrum yang bening kekuningan dan tampak spt air liur menyebabkan kolostrum sulit untuk diidentifikasi. Sehingga tak jarang ibu yang merasa ASInya belum keluar, padahal ASI (kolostrum) nya sudah keluar. Memerah ASI di awal-awal pasca melahirkan akan terasa sulit, karena payudara terasa bengkak. Disini ibu membutuhkan bantuan dari konsultan laktasi. Selanjutnya seiring dengan waktu dan makin seringnya ibu memerah ASI, maka ibu akan lebih terampil dalam memerah ASI.

Karena sedemikian berharganya kolostrum, maka pastikan ibu memberikannya ke bayi meskipun hanya dalam jumlah yg amat sangat sedikit. Kolostrum ini akan menjadi hadiah yang tak ternilai harganya utk anak. Karena manfaatnya yang demikian hebat, maka segala macam upaya dalam memberikan kolostrum akan menjadi hal yang patut diperjuangkan.

Rooming-In (Rawat Gabung)

Banyak RS yang menawarkan pilihan agar bayi dapat terus bersama ibunya selama 24 jam. Kondisi ini dinamakan rawat gabung. Meskipun selama ini banyak RS yang masih menerapkan ruangan khusus untuk bayi, terpisah dari ibunya. Namun riset terakhir menunjukkan bahwa jika tidak ada masalah medis, tidak ada alasan untuk memisahkan ibu dari bayinya, meskipun sesaat (Yamauchi and Yamanouchi 1990; Buranasin 1991; Oslislo and Kaminski 2000). Bahkan makin seringnya ibu melakukan kontak fisik langsung (skin-to-skin contact) dengan bayi akan membantu menstimulasi hormon prolaktin dalam memproduksi ASI (Hurst 1997). Karena itu pada tahun 2005, American Academy of Pediatrics (AAP) mengeluarkan kebijakan agar ibu dapat terus bersama bayinya di ruangan yang sama dan mendorong ibu untuk segera menyusui bayinya kapanpun sang bayi menginginkannya. Semua kondisi tsb akan membantu kelancaran dari produksi ASI.

Susui bayi sesering mungkin

Seperti yang telah diketahui bersama, ibu harus menyusui sesering mungkin kapanpun bayi menginginkannya. Ini berarti, paling tidak tiap 2 hingga 3 jam sekali dan tiap 4 hingga 5 jam di malam hari dari 8 hingga 12 kali menyusui selama 24 jam. Coba kalkulasikan berapa lama bayi menyusu, mulai dari awal hari menyusu hingga akhir hari. Umumnya bayi menyusu kira-kira 20-40 menit sekali menyusu, tapi bukan berarti ibu harus melihat jam dan mengukur lamanya bayi menyusui. Di minggu-minggu pertama menyusui, terutama saat bayi baru lahir, hari-hari ibu terasa hanya diisi dengan kegiatan menyusui saja. Saat bayi baru selesai menyusui, ibu harus menyusu kembali. Ini sangat lumrah terjadi. Sebelum ASI matang keluar, bayi akan terasa begitu rakus menyusu. Hal ini disebabkan lambung bayi yang begitu kecil, sehingga mereka mudah lapar.

Makin sering bayi menyusui akan memperbanyak ASI yang diproduksi. Hal ini disebabkan oleh stimulasi maksimum dari reseptor-reseptor prolaktin yang akan memicu produksi ASI dalam jumlah sebanyak mungkin. Bulan pertama menyusui adalah masa pembelajaran utk bayi. Di bulan tsb, ia berusaha menguasai betul bagaimana teknik menyusui yang tepat. Hingga masuk ke bulan berikutnya, ia dapat menyusu dengan baik dalam waktu yang singkat. Dengan selalu berada di dekatnya, Ibu dapat memastikan tanda-tanda awal bayi lapar (mimik muka tanda haus, dsbnya). Jadi ibu dapat segera menyusuinya sebelum bayi kelaparan dan menangis karena stres. Jika hal ini dilakukan, ibu dan orang sekitar ibu akan terhindar relatif jauh dari stres.

Seiring waktu, ibu tidak selalu menghabiskan waktu dengan menyusui sepanjang hari. Ingatlah bahwa ibu dalam masa pemulihan pasca melahirkan, sehingga ibu butuh banyak istirahat. Menyusui adalah cara alami untuk memastikan ibu dapat berisitrahat dengan baik. Terutama di sela waktu menyusui. Ibu dapat beristirahat saat bayi sedang tidak menyusu. Semakin bertambahnya waktu juga, bayi akan memiliki pola menyusui. Sehingga ibu dapat mengatur waktunya dengn baik. Pola menyusui yang bayi atur akan sangat spesifik sesuai dengan kebutuhannya. Mulai dari kebutuhan emosinya hingga kebutuhan fisiologisnya. Dan pola menyusui tsb akan terus berubah sesuai dengan pertumbuhan dan perkembangannya.

Lindungi diri dengan lingkungan yang supportif

Masa menyusui adalah masa yang paling sensitif dalam kehidupan ibu. Baik secara fisik ataupun emosional. Begitu ibu mulai menyusui, ibu butuh lingkungan yang supportif, yang mendukung ibu dari berbagai keraguan dan kritikan. Menyusui memang hal biologis yang wajar. Namun di dalam masyarakat, kita masih sering menjumpai orang-orang yang tidak nyaman dengan keberadaan ibu menyusui. Dan orang-orang ini akan banyak melontarkan pertanyaan-pertanyaan yang sinis seputar produksi ASI ibu. Hal ini disebabkan oleh minimnya pengetahuan yang mereka ketahui tentang menyusui dan kadang dipengaruhi oleh anggapan yang salah tentang payudara dari segi sexual. Disini lah ibu butuh banyak dorongan dan dukungan positif. Jangan pedulikan tanggapan negatif yang dapat mengganggu kenyamanan dan rasa percaya diri ibu akan ASI dan menyusui.

Memang tidak mudah menjaga jarak dari orang-orang yang tidak mendukung ibu dalam hal menyusui. Namun ingatlah bahwa ibu butuh suasana dan lingkungan yg kondusif demi keberhasilan ASI eksklusif. Ingatlah selalu bahwa bayi ibu butuh air susu ibu. Ingatlah selalu akan hal ini diatas segala kritikan dan tekanan. Jika ibu sulit menghadapi berbagai kritikan dan tekanan, mintalah bantuan suami ataupun orang lain yang dapat membantu ibu untuk menghadapi hal tsb.

Mungkin ibu berpikir, “Bagaimana jika orang yg tidak mendukung saya adalah ibu saya atau ibu mertua saya ? Bagaimana cara utk menghadapinya ?”. Banyak eyang baru yang tidak berhasil menyusui anaknya saat ia bayi. Beberapa eyang yang sedih akan berupaya sedemikian rupa membantu agar anaknya ataupun menantunya sukses menyusui bayinya. Namun ada juga eyang yang justru menjadi defensif. Mereka akan berupaya mempertahankan pendapatnya agar diberikan susu formula dan menganggap menyusui adalah hal yang menyebalkan. Nah tahukah anda pengalaman ibu anda ataupun ibu mertua anda dalam hal menyusui ?! Tanyakan hal ini kepada mereka. Dengarkan cerita dan pengalaman mereka saat menyusui dulu. Dengan demikian, anda mendapatkan informasi, dukungan ataupun masalah teknis yang mungkin anda belum dapatkan. Hal ini akan mengetahui bagaimana perjuangan mereka dahulu dan bagaimana anda mengetahui betul bahwa mereka adalah orang tua yang baik. Dengan menunjukkan empati dan mendengarkan pengalaman mereka, anda akan mendapatkan dukungan ataupun masukan yang baik dalam menyusui.

Kewajiban lainnya

Di minggu-minggu pertama menyusui, ibu akan terfokus pada perawatan anak, menyusui dan merawat diri sendiri. Tanggung jawab lainnya tidak akan terlalu menjadi perhatian. Jika anda memiliki anak yang lebih besar (akak dari bayi), anda perlu memperhatikan mereka juga. Padahal anda harus membagi perhatian utama ke bayi dan anda sendiri. Mintalah bantuan kepada suami ataupun pengasuh yang akan membantu anda dalam memenuhi kebutuhan utama sang kakak.

Biasanya teman ataupun kerabat akan mengunjungi ibu di awal-awal pasca ibu  melahirkan. Di saat spt ini ibu seringkali merasa tidak dapat leluasa menyusui bai ataupun utk beristirahat. Jika hal ini terjadi, katakanlah secara perlahan dan sopan kepada tamu bahwa ibu butuh waktu untuk menyusui ataupun istirahat. Jika tamu tsb tetap memaksa utk tinggal, maka cara terbaik adalah membatasi waktu berkunjung. Atau ibu dapat menjelaskan secara perlahan bahwa ibu butuh istirahat.

Istirahat di tempat tidur

Tahukah anda bahwa istrihat di tempat tidur di hari-hari pertama menyusui adalah kunci awal keberhasilan menyusui. Ibu dapat membawa buku atau majalah ataupun tv untuk dibawa ke kamar ibu. Siapkan juga snack dan minuman di dekat tempat tidur. Jadi ibu hanya berdiri jika ke kamar mandi. Meluangkan waktu untuk memanjakan diri sendiri dan menyusui bayi kapanpun ia inginkan, akan membantu kelancaran ASI. Jika perlu jelaskan ke tiap orang bahwa ini adalah “perintah dokter” jika ibu butuh justifikasi. Pasca melahirkan, banyak dokter yang menginstruksikan kepada ibu utk melakukan hal diatas. Karena meskipun ibu merasa senang dan segar, tubuh ibu tetap butuh istirahat banyak utk memulihkan diri pasca melahirkan. Jika ibu tidak istirahat di awal-awal pasca melahirkan, maka beberapa bulan berikutnya akan terasa lebih sulit. Dan hal ini jelas akan mempengaruhi produksi dari ASI.

Masak dan pekerjaan rumah

Dari sekian banyak tanggung jawab, ada 2 hal yang sebaiknya tidak ibu lakukan sendiri, yaitu masak dan pekerjaan rumah. Mintalah bantuan teman ataupun keluarga utk dapat membantu ibu menyiapkan makanan. Jadi jika ada banyak tamu yang datang membawakan banyak makanan, simpanlah dalam kulkas utk cadangan makanan ibu nanti. Biasanya banyak tamu yang berpikir jika mereka membawa makanan akan jauh lebih bermanfaat utk ibu pasca melahirkan.

Pekerjaan rumah, terutama di hari-hari saat ibu melahirkan, akan terasa sangat menumpuk. Ini bukan waktunya utk ibu memikirkan hal-hal resik spt ini. Meskipun banyak yang sudah membantu membersihkan rumah dsbnya. Jangan pedulikan hal-hal yang detail, terutama menyangkut urusan keapikan rumah, selama masa awal menyusui. Jangan paksakan diri utk membereskan pekerjaan rumah, terutama di awal pasca melahirkan. Mintalah bantuan orang lain. Beritahukan mereka dimana letak piring akan menghemat energi ibu daripada mengerjakannya sendiri. Ingat dan ingatlah selalu bahwa urusan rumah bukanlah tanggung jawab anda saat ini. Tiap orang yang bertamu akan mengerti bagaimana rasanya menjadi seorang ibu. Sehingga mereka tidak akan menuntut rumah selalu terlihat rapi. Seorang ibu menyusui yang mengatakan:

“Memang melakukan sesuatu tidak semudah mengatakan sesuatu. Semua orang bilang saya hanya boleh menyusui saja. Santai dan jangan memikirkan urusan rumah. Jangan hiraukan. Konsentrasi menyusui saja. Lupakan urusan lain. Saya pikir saya tidak akan menghiraukan nasehat itu, Ini sama saja saya membiarkan diri saya sendiri bermalas-malasan. Padahal saya dapat melakukannya meski saya harus mengurus dan menyusui bayi saya. Saya tidak mengerti kenapa tiap orang menyarankan hal tsb”.

Jawabannya hanya satu : Jangan biarkan energi ibu habis untuk hal yang tidak perlu, meski itu sekecil apapun. Simpan energi ibu untuk menyusui bayi.

Pengasuh pasca melahirkan (Postpartum Doula Care )

Banyak ibu yang memilki suami ataupun keluarga yang begitu mendukung dan membantu semua urusan ibu. Namun ada hal lain yg ibu butuhkan selain hal tsb.Selain merawat bayi, ibu juga perlu merawat dan memanjakan diri sendiri. Terkadang ibu juga merasa kebingungan dalam merawat bayi baru lahir. Disinilah ibu butuh bantuan dari doula. Doula adalah orang (biasanya wanita) profesional yg membantu ibu dalam merawat bayi dan memberikan dukungan dalam menyusui. Banyak juga doula yg ikut membantu ibu dalam proses persalinan, meski banyak juga yg membantu ibu pasca melahirkan.  Doula juga dapat membantu ibu dalam mengurus rumah, mengasuh sang kakak dari bayi, ataupun merawat anda. Kehadiran doula bukan hanya utk membantu hal-hal tsb diatas, tetapi juga membantu memastikan ibu agar tetap percaya diri selama proses menyusui dengan bayinya.

Saat ibu memilih menyewa doula, tanyakan betul bagaimana filosofinya tentang perawatan bayi. Apakah ia percaya bahwa bayi disusui kapanpun bayi menginginkan atau ia lebih meyakini agar proses menyusui dilakukan berdasarkan jam? Apakah dia lebih suka bayi tinggal sekamar bersama ibu, atau ia lebih suka bayi dirawat olehnya ? Apakah ia mengerti betul tentang masalah-masalah menyusui ? Apalah dia menyarankan ibu untuk menemui konsultan laktasi jika dibutuhkan ? Dengan mengetahui betul filosofi dari doula yg akan ibu sewa, maka ibu dapat memastikan kelancaran berbagai urusan di rumah dan proses menyusui. Dan apabila ibu memiliki berbagai pertanyaan atau sekedar ingin mengetahui berbagai hal seputar menyusui, ibu dapat menghubungi ahli laktasi.

Makan, minum dan tidur nyenyak

Agar anda memiliki tenaga utk menyusui dan merawat bayi, anda butuh makanan yang bergizi, banyak cairan dan tidur yang banyak. Jangan melewatkan saat makan. Bahkan, ibu perlu makan snack bergizi di sela-sela waktu makan. Secara umum, jumlah dan kualitas makanan sangat perlu diperhatikan bagi ibu menyusui. Meski tubuh ibu akan membuat ASI yang bagus (berkualitas) meskipun ibu makan makanan yg kurang gizi. Makan makanan yang bergizi akan mengembalikan tubuh ibu ke kondisi prima. Karena itu nikmatilah waktu makan dengan baik.

Minuman juga perlu diperhatikan. Minumlah saat ibu merasa haus. Ingatlah, minum dalam volume yang banyak tidak akan memperbanyak ASI. Air adalah cairan terbaik. Meskipun ibu dapat minum the yg tidak berkafein jika ibu menginginkannya. Buah dan jus jeruk juga sangat bermanfaat karena gizinya yg baik. Tapi jika anda minum jus yang ada dalam kemasan, pastikan anda membaca label kemasan. Pastikan tidak ada gula di dalamnya. Gula dalam jus kemasan hanya akan menambah kalori yang tidak diperlukan tubuh. Beberapa ibu merasa jika ia minum banyak jus jeruk, maka bayinya menjadi rewel. Demikian juga dengan susu sapi. Beberapa bayi sensitif thd protein dari susu sapi yg ada di dalam ASI. Meski hanya sedikit ibu yg mengalaminya.

Ada anggapan bahwa ibu harus minum susu agar dapat membuat ASI. Anggapan ini tidak benar. ASI dibuat dari berbagai nutrien yg ada dari berbagai sumber. Jadi bukan hanya dari susu. Banyak ibu yang tidak minum susu dan tidak ada masalah dalam produksi ASInya.

Selain urusan makan dan minum, hal lain yg perlu ibu perhatikan adalah masa tidur. Tidurlah kapanpun ibu bisa. Tidurlah saat bayi sedang tidur. Di awal kehidupannya, bayi masih belum memiliki pola tidur yg teratur. Sehingga waktu malam ia masih memungkinkan sering bangun dan memotong waktu tidur ibu di malam hari. Karena itu tidurlah saat bayi sedang tidur. Saat bayi tidur,  biasanya ibu memanfaatkannya utk menelpon, menulis, mengerjakan pekerjaan rumah dsbnya. Padahal inilah waktu yg tepat utk ibu banyak beristirahat. Mungkin tidak mudah utk ibu tidur saat bayi tidur. Terutama jika tidak alma kemudian bayi bangun. Namun seiring waktu ibu akan terbiasa beristirahat dan mengikuti ritme bayi. Percayalah ibu akan mendapatkan banyak manfaat dengan istirahat banyak. Apalagi tubuh ibu butuh memulihkan kondisi pasca melahirkan.

Agar produksi ASI selalu optimal

Menyeimbangkan urusan menjaga produksi ASI agar terus optimal, menyusui dan mengurus keluarga adalah hal yg tidak mudah. Setiap hari ibu harus memenuhi kebutuhan bayi, keluarga dan diri sendiri. Terkadang sulit sekali bagi ibu utk membagi perhatian dan menyeimbangkan semua urusan. Jika hal ini terjadi, cobalah utk selalu mengingat bahwa ibu telah memberikan yg terbaik utk keluarga ibu sesuai dengan kemampuan ibu. Jangan pernah memaksakan diri sendiri. Anda akan kelelahan jika berusaha memaksakan diri. Akibatnya produksi ASI juga tidak optimal. Bersikap ariflah dalam melalui proses ini. Ingatlah, anda butuh waktu banyak utk mencintai bayi anda, sosok mungil yg baru lahir dan butuh waktu singkat sebelum ia tumbuh besar.

Referensi

American Academy of Pediatrics. Policy statement: Breastfeeding and the use of human milk. Pediatrics 2005; 115(2):496-506.

Buranasin, B. The effects of rooming-in on the success of breastfeeding and the decline in abandonment of children. Asia Pac J Public Health 1991; 5(3):217-20.

Dewey, K., Nommsen-Rivers, L., Heinig, M., Cohen, R. Risk factors for suboptimal infant breastfeeding behavior, delayed onset of lactation, and excess neonatal weight loss. Pediatrics 2003; 112(3 Pt 1):607-19.

Grajeda, R. and Perez-Escamilla, R. Stress during labor and delivery is associated with delayed onset of lactation among urban Guatemalan women. J Nutr 2002; 132(10):3055-60.

Hartmann, P. Lactation and reproduction in Western Australian women. J Reprod Med 1987; 32:543-47.

Hartmann, P. and Prosser, C. Physiological basis of longitudinal changes in human milk yield and composition. Fed Proc 1984; 43:2448-53.

Houston, M., Howie, P., McNeilly, A. Factors affecting the duration of breast feeding: 1. Measurement of breast milk intake in the first week of life. Early Hum Dev 1983; 8:249-54.

Hurst, N., Valentine, C., Renfro, L. et al. Skin-to-skin holding in the neonatal intensive care unit influences maternal milk volume. J Perinatol 1997; 17(3):213-17.

Oslislo, A. and Kaminski, K. Rooming-in: a new standard in obstetrics and neonatology. Ginekol Pol Apr 2000; 71(4):202-7.

Ransjo-Arvidson, A., Matthiesen, A., Lilja, G. et al. Maternal analgesia during labor disturbs newborn behavior: effects on breastfeeding, temperature, and crying. Birth 2001; 28(1):5-12.

Righard, L. and Alade, M. Effect of delivery room routines on success of first breast-feed. Lancet 1990; 336:1105-07.

Rowe-Murray, H. and Fisher, J. Baby friendly hospital practices: cesarean section is a persistent barrier to early initiation of breastfeeding. Birth 2002 Jun; 29(2):124-31.

Wang, Y. and Wu, S. Effect of early suckling and emptying the breasts after nursing on exclusive breastfeeding. Zhonghua Fu Chan Ke Za Zhi 1994; 29(8):465-7, 509-10.

Widstrom, A., Wahlberg, V., Matthiesen, A. Short-term effects of early suckling and touch of the nipple on maternal behavior. Early Hum Dev 1990; 21:153-63.

Yamauchi Y. and Yamanouchi, I. The relationship between rooming-in/not rooming-in and breast-feeding variables. Acta Paediatr Scand 1990; 79:1017-22.

Last edited Sunday, September 18, 2005 9:38 PM by jlm.
Diterjemahkan bebas oleh Luluk Lely Soraya I @ September 2005

Posted by NieOsa at 08:52:08 | Permalink | Comments (1) »

Saat Bayi Latching-on (*)

Saat Bayi Latching-on (*)

(*) : Latching-on ataupun Latch-on adalah kondisi dimana bayi menempelkan mulutnya ke areola (daerah kecoklatan di payudara ibu) dan memasukkan ke dalam mulutnya.

Di dalam artikel ini, istilah latch-on tidak akan ditranslate mengingat tidak adanya kesepadanan arti dalam Bahasa Indonesia

 

Gambar 1a

 

Gambar 1b

 

 

Dekatkan bayi ke sisi bagian tubuh ibu yang sejajar dengan lengan ibu (Lihat Gambar 1a & 1b)

  • Posisi ini akan memudahkan bayi untuk memasukkan sebagian besar payudara ibu ke mulutnya.
  • Letakkan tangan ibu di belakang kepala bayi dengan posisi telapak tangan ke atas.
  • Kepala bayi disangga dengan telapak tangan ibu, tetapi TIDAK menekan payudara ibu.
  • Miringkan kepala bayi perlahan ke arah payudara ibu.
  • Badan dan tangan bayi merangkul ke tubuh ibu
  • Saat mulut bayi terbuka lebar, dekatkan ia ke arah payudara ibu dengan bantuan tangan ibu.
  • Dagu dan rahang bawah akan menyentuh terlebih dahulu ke payudara ibu.

PERHATIKAN BIBIR BAWAH,  arahkan bibir bawah bayi selebar mungkin, sehingga lidah bayi akan mengambil sebagian  besar payudara ibu kedalam mulutnya.

Pindahkan tubuh dan kepala bayi secara bersamaan – jaga bayi agar tidak melingkar.

Sekali bayi latch-on, Once latched, top lip will be close to nipple, areola shows above lip. Keep chin close against breast.

MULUT TERBUKA LEBAR / MENGANGA

 

Dg bantuan  telapak tangan ibu utk menopang bahu bayi, dorong perlahan bayi mendekati areola,

Jaga agar posisi bayi tidak melingkar, dagu akan terlebih dahulu menempel pada payudara ibu

 

Areola (Area kecoklatan di payudara ibu) yg diarahkan ke mulut bayi

 

 

 

 

Usahakan mulut bayi terbuka lebar sebelum bayi didekatkan ke arah areola. Ajarkan bayi untuk membuka mulutnya lebar-lebar (menganga) :

  • Dekatkan bayi ke arah payudara I bu, sentuh bibir atas bayi dengan putting payudara ibu.
  • Jauhkan PERLAHAN mulut bayi dari putting payudara ibu
  • Sentuh kembali bibir atas bayi dengan putting payudara ibu, danjauhkan kembali
  • Ulangi hingga mulut bayi terbuka lebar dan lidahnya bergerak ke atas.
  • Atau, lebih baik lagi, arahkan puting payudara ibu ke arah bibir atas bayi, dari satu sudtu bibir ke sudut lainnya, lakukan perlahan, hingga mulut bayi terbuka lebar.

 

 

 

POSISI BAYI SAAT LATCHING-ON

(Gambar diambil dari sisi ibu)

 

 

Sangga kepala bayi  dengan tangan dan arahkan perlahan

Bawa bayi segera mendekati areola ibu

Dorong perlahan bahu bayi dengan bantuan  tangan ibu

Dagu akan menyentuh terlebih dahulu

Badan bayi menempel pada ibu

 

 

Area kecoklatan di payudara ibu yg diarahkan ke mulut bayi

 

 

 

Gerakkan bayi, bukan payudara !

POSISI BAYI SAAT MENYUSU PADA IBU

(Gambar diambil dari sisi ibu)

 

 

Sangga kepala bayi  dengan tangan dan arahkan perlahan

Dagu menempel dengan baik pada payudara ibu

Rangkul bayi secara baik dengan bantuan lengan ibu

Jaga agar posisi bayi tidak melingkar

 

 

 

REKOMENDASI untuk IBU

Posisi Ibu

  • Duduk tegak dan sangga bagian belakang tubuh ibu dengan bantalan.
  • Badan ibu menghadap bayi, dengan posisi paha (pangkuan) rata

Posisi bayi sebelum mulai menyusui

  • Letakkan bayi diatas bantal. Posisi ini akan membantu proses latching-on
  • Puting payudara ibu menghadap bibir atas atau hidung bayi

Posisi badan bayi

  • Posisikan badan bayi & ibu tidak langsung perut ke perut, tetapi arahkan bayi mendekati payudara ibu dari sisi bawah dan mata bayi bertatapan dg mata ibu.

Sangga payudara

  • Siapkan jaringan payudara dengan cara menyangga payudara perlahan dengan jari-jari tangan diletakkan sejajar payudara dan ibu jari menghadap ke atas (terkadang penggunaan kain peyangga /sling ataupun tensor bandage di sekita payudara akan membantu)

Dekatkan bayi ke arah payudara

  • Sangga kepala bayi dengan perlahan, dekatkan ke bahu bayi sehingga dagu dan rahang atas akan menyentuh pertama kali dengan payudara  (bukan hidung). Sementara itu saat mulut bayi terbguka lebar, jaga bayi dalam posisi merangkul (artinya lidah dekat dengan payduara), bibir atas diarahkan sejauh mungkin sehingga mulut bayi terbuka lebar dan siap lidah bayi akan memasukkans sebagian besar payudara ibu. 

 

PERHATIAN

Hal-hal yang harus ibu HINDARI

  • Mendorong payudara berlawanan tubuh ibu
  • “Mengejar” bayi dengan payudara ibu. Ingat bayi yang didekatkan ke payduara ibu, bukjan payudara ibu yg mencari mulut bayi.
  • Menepuk-nepuk payudara ke atas dan bawah
  • Menahan payudara dengan dua buah jari (seperti menggunting). Posisi ini sering juga disebut scissor hold
  • Tidak menyangga payudara
  • Memutar tubuh ibu ke arah bayi. Padahal yg benar adalah mendekatkan bayi secara perlahan ke payudara ibu.
  • Mengarahkan puting payudara ke bagian tengah mulut bayi
  • Menarik dagu bayi ke bawah agar mulut bayi terbuka
  • Tidak menyangga dengan baik kepala bayi saat didekatkan ke payudara
  • Mendekatkan payudara ibu ke mulut bayi. Sementara yg betul adalah mendekatkan bayi secara perlahan ke payudara ibu.
  • Mendekatkan bayi ke payudara ibu saat mulut bayi belum terbuka lebar
  • Tidak segera mendekatkan bayi ke payudara ibu saat mulutnya terbuka lebar
  • Hidung bayi lebih dulu menyentuh payudara ibu, dan bukan dagunya.
  • Menahan payudara agar tidak menutupi hidung bayi (Hal ini tidak akan terjadi jika bayi latch-on dengan baik, sehingga hidung tidak akan menempel pada payudara ibu)

See videos at www.thebirthden.com/Newman.html

Handout A, When Latching
Revised: January 2005
Original written and designed by Anne Barnes

Posted by NieOsa at 08:43:20 | Permalink | No Comments »

Thursday, August 24, 2006

Fever in Children


oleh : Purnama
wati S Pujiarto, Dr SpAK, MMPed
 Demam merupakan masalah yang sering menimpa anak kita dan tidak sedikit kita2 sebagai orang tua mudah panik sehingga langsung ke dokter anak dan berharap agar cepat sembuh. Sebenarnya kalau kita tahu apa itu demam dan cara mengatasinya, tidak selalu kita harus ke dokter loh…

Lalu apa sih demam itu?

Demam adalah kondisi ketika suhu tubuh anak mencapai lebih dari 38C dan prosesnya terdiri dari 3 fase, yaitu (1) menggigil sampai suhu tubuh mencapai puncaknya (2) suhu menetap dan (3) suhu menurun.
Demam juga merupakan mekanisme tubuh untuk melawan penyakit, karena suhu tubuh yang tinggi dapat membunuh virus (yang bisa meningkat jumlahnya pada suhu tubuh rendah).
So better not to treat low grade fever.



Bagaimana bisa timbul demam?
Peningkatan suhu tubuh ditimbulkan oleh beredarnya molekul kecil didalam tubuh kita yang disebut PIROGEN (zat pencetus panas). Zat ini juga berguna untuk mengerahkan sel darah putih ke lokasi infeksi dan terjadinya peningkatan pirogen ini bisa disebabkan karena;
 

  1. Infeksi
  2. Non Infeksi, seperti alergi, tumbuh gigi, keganasan, autoimun (adanya kesalahan “program” di dalam tubuh dimana organ tubuh kita disangka sebagai “musuh” dan diserang oleh sistem kekebalan tubuh kita sendiri) dan lain2.

 Diantara kedua penyebab diatas, demam lebih sering disebabkan karena infeksi, bisa oleh bakteri atau virus and in most cases (more than 75%), infeksi ini disebabkan oleh virus , terutama pada bayi dan anak .

Jadi bisa disimpulkan bahwa demam bukanlah suatu penyakit, melainkan suatu gejala….dan gejala tidak akan hilang apabila penyebabnya tidak ditangani. Makanya ketika anak diberikan obat penurun panas (tempra, panadol), dalam beberapa jam panasnya naik lagi, ini terjadi karena obat penurun panas tidak menyembuhkan penyakitnya.
Lalu apa dong gunanya minum obat penurun panas? gunanya adalah supaya menurunkan suhu tubuh, agar suhu tubuh tidak terus meningkat
dan supaya anak merasa nyaman (pain killer), tetapi bukan untuk menormalkan suhu tubuh!
Sekali lagi mohon di ingat - demam bukan penyakit - demam adalah gejala & yang terpenting - cari penyebabnya.
Kalau penyebabnya infeksi virus seperti pilek atau flu, obatnya hanya waktu dan beberapa pegangan di bawah ini. Jangan berikan antibiotik karena antibiotik tidak dapat membunuh virus

Cara mengatasi demam
 

  1. Minum Banyak karena demam dapat menimbulkan dehidrasi (baca “kerugian yg dapat terjadi karena demam”).
  2. Kompres anak dengan air hangat.
    Kok bukan dengan air dingin? karena apabila diberi air dingin, otak kita akan menyangka bahwa suhu diluar tubuh dingin sehingga otak akan memerintahkan tubuh untuk menaikkan suhunya dengan cara menggigil sehingga memproduksi panas. Akibatnya suhu tubuh anak bukannya turun, melainkan tambah panas.
  3. Beri obat penurun panas, acetaminophen atau paracetamol seperti tempra, panadol, atau paracetol, tylenol, sesuai dosis. Kapan obat penurun panas diberikan? Bila suhu di atas 38.5C, atau bila anak uncomfortable. Sebaiknya jangan berikan obat demam apabila panasnya tidak terlalu tinggi (dibawah 38.5C).

 Note: Baca attachment slide 3 & 4: Mekanisme Pengaturan Suhu Tubuh.

Ingat: 

  • Sebaiknya kompres dilakukan ketika: anak merasa uncomfortable, suhu mencapai 40C, pernah kejang demam/keluarga dekat pernah menderita kejang demam atau anak muntah2 sehingga obat tidak bisa masuk.

 

  • Cara melakukan kompres: taruh anak di bath tub mandi dengan air hangat (30-32C) atau usapkan air hangat disekujur tubuh anak. Kalau anak menolak, duduk di bath tub beri mainan & ajak bermain.



Kerugian yang dapat terjadi karena demam

1. Dehidrasi

Tanda2nya: ubun2 cekung, kencingnya sedikit dan apabila punggung tangannya dicubit, kulitnya lambat kembali.
Yang harus dilakukan: beri minum yang banyak, jus buah, es batu atau es krim. Apabila anak muntah atau diare, berikan oralit, pedialite, atau kalau sudah di atas usia 1 tahun tetapi tidak menyukai pedialit atau oralit, dapat diberikan pocari sweat atau gatorade (yang penting minuman yg mengandung elektrolit).

2. Kejang Demam(Febrile convulsion)
Jarang terjadi, terutama pada anak usia antara 6 bulan - 3 tahun. Tanda2nya: hilang kesadaran,  kedua tangan kakinya bergerak dalam waktu yang sebentar (istilah nya kejang  yg menyeluruh atau generalized, tidak hanya satu sisi saja atau tangan saja atau kaki saja), biasanya berlangsung beberapa detik dan tidak lebih dari  5 menit.
Berbeda dgn kejang yg disebabkan epilepsi (kejang nya lama, tidak harus seluruh anggota tubuh yang mengalami kejang, dan setelah kejang tidak sadar) or radang otak akibat herpes simplex yg tanda2nya: hanya sebelah tangan kakinya yg bergerak dan terjadi dlm waktu lama, lebih dr 10 menit, dan setelah kejang pasien tidak sadar.


Walau nampak menakutkan, kejang demam umumnya tidak berbahaya, namun begitu apabila anak mengalami kejang, sebaiknya dibawa ke dokter.
Ada obat yang dapat mengurangi kejangnya, seperti diazepam atau valium yang berguna untuk merelaksasi otot. Tapi harus diberikan ketika terjadi kejang, tidak berguna apabila diberikan sebelum atau sesudah kejang.
Note: Baca attachment slide 8: Complications dan slide 13; Management of Febrile Convulsion

Obat demam

Tabel dibawah menunjukkan beberapa obat demam yang tersedia di Indonesia.

  Ibuprophen Acetaminophen Acetosal Metamizole
Untuk mengobati nyeri, demam, peradangan. demam, nyeri. nyeri, demam, peradangan. nyeri, demam, peradangan.
Merk Dagang Proris, Fenris, Motrin Tempra, Panadol Aspilet, Aspirin, Aseptosal Novalgin
Efek Samping Iritasi lambung, pendarahan saluran pencernaan. Jgn diberikan bila anak muntah/diare. Paling aman, bila sesuai dosis. Overdose menyebabkan kerusakan hati. Gangguan otak dan hati, iritasi lambung. Tidak untuk anak dibawah 12 tahun. Alergi (contoh: muka bengkak)



Note:
Baca slide14 Fever medication. The best medication for our children is look for the safety, not the efficacy. And remember drugs carry the potentiiality to be toxic, so - be sensible of using/consuming drugs.
 
Prinsip dalam menangani demam
Dibawah ini merupakan hal2 yg harus kita lakukan apabila anak demam as recommended by Mayo Clinic
USA dan AAP )American Academy of Pediatrics):
- Cari tahu penyebab panasnya.
- Don’t panic! umumnya demam tidak membahayakan jiwa.
- Amati perilaku anak.
Bila pada suhu tidak terlalu tinggi anak masih riang, aktif dan mau main, maka kita tidak perlu panik.
- Jangan memberikan obat penurun panas bila demam tidak tinggi.
- Mengetahui kapan harus cemas dan menghubungi dokter (lihat dibawah).

Kapan harus menghubungi dokter?

Dibawah adalah panduan yang dibuat oleh American Academy of Pediatrics:
- Bila bayi berusia kurang dr 3 bln dgn suhu tubuh mencapai 38C atau lebih.
- Bila bayi berusia 3-6 bln dgn suhu tubuh mencapai 38.3C atau lebih.
- Bila bayi & anak berusia lebih 6 bln dgn suhu tubuh mencapai 40C atau lebih.
- Tidak mau minum/ telah mengalami dehidrasi.
- Menangis terus menerus.
- Tidur terus menerus.
- Kejang
- Sesak nafas, gelisah, muntah or diare.

Posted by NieOsa at 10:23:16 | Permalink | Comments (1) »

Wednesday, August 16, 2006

Ibu Hamil, Hindari Ini!

Zat kimia dan jasad renik dalam produk-produk rumah tangga dan makanan memang bisa saja jadi musuh janin. Asal patuh pada rambu-rambunya, janin Anda tetap bisa selamat kok.

 

              Terpaparnya tubuh dengan berbagai zat kimia dan jasad renik memang bisa terjadi melalui berbagai cara. Misalnya, terhirup lewat udara, terserap lewat kulit atau mata, bahkan bisa juga tertelan.

Dan, dari www.marchofdimes.com disebutkan, ada lebih dari 4 juta jenis zat kimia yang digunakan di lingkungan rumah dengan informasi yang sedikit tentang efeknya terhadap kehamilan dan janin. Padahal, dampaknya tidak main-main. Zat kimia tersebut bisa mengancam kesehatan janin Anda.

Juga, bila Anda mengonsumsi jasad renik yang ‘kebetulan’ berada di dalam makanan, dampak ke janin akan sama buruknya. Ingin tahu produknya? Adakah aturan mainnya agar Anda bisa terbebas dari risiko ini?

 

Berbagai produk yang perlu diwaspadai

            Untuk mudahnya, produk-produk yang ada di rumah dibedakan menjadi dua, yakni:

 

Produk-produk rumah tangga

 

A. Tiner dan cat minyak

 

Kandungan : Logam berat, seperti timbal dan cadmium.

Risiko :

- Bila terpapar logam berat dalam waktu yang lama:

•  Bayi lahir dengan berat badan rendah.

•  Bayi dengan cacat tubuh.

•  Bayi lahir sebelum waktunya (prematur).

•  Keguguran.

- Dalam tingkatan yang paling ringan, uap dari cat dan bensin bisa menyebabkan    mual dan pusing-pusing.

 

B. Produk-produk aerosol, pemutih, pembersih lantai, lem, penyegar udara, serta pembersih kaca

 

Kandungan : Semua produk rumah tangga ini memakai bahan-bahan kimia organik yang mudah menguap, seperti toluene, xylenes dan phenol. Bahan-bahan kimia ini adalah bahan disinfektan untuk membunuh kuman.

Risiko :

•  Bayi lahir dengan kelainan saraf dan retardasi mental.

•  Bayi lahir dengan cacat tubuh.

 

C. Cat rambut

 

Kandungan : Ter (belangkin) dan zat kimia keras lainnya

Risiko : Keguguran.

Catatan : Menurut www.health.discovery.com, sejauh ini belum ada kasus ibu yang keguguran akibat menggunakan cat rambut. Meski begitu, belum ada pula bukti yang jelas-jelas menyatakan bahwa zat kimia yang terkandung di dalamnya juga aman. Jadi? Kesimpulannya, beberapa ahli menyarankan agar wanita hamil sebaiknya menunda dulu keinginannya untuk mengecat rambut, terutama di trimester pertama.

 

D. Insektisida (cairan pembasmi serangga) dan insect repellant (cairan penangkal serangga yang dioleskan ke tubuh)

 

Kandungan : Pestisida

Risiko : Terpapar dalam jumlah banyak:

•  Keguguran.

•  Bayi lahir prematur.

•  Bayi lahir cacat.

•  Mempengaruhi sistem reproduksi janin.

 

 

Makanan

 

A. Ikan mentah

              Biasanya, ikan mentah digunakan dalam makanan Jepang, seperti sashimi dan sushi.

 

Kandungan : Dikhawatirkan mengandung merkuri.

Risiko : Ibu hamil yang terkontaminasi merkuri berpotensi:

•  Bayi lahir dengan kerusakan saraf.

•  Bayi lahir dengan cacat tubuh.

•  Bayi menderita kanker.

Catatan : Saat hamil, sebisa mungkin hindari mengonsumsi ikan mentah. Tapi, kalau Anda tetap ingin mengonsumsinya, pastikan ikan tersebut tidak berasal dari laut yang tercemar limbah pabrik.

 

B.   Daging sapi atau ayam mentah atau dimasak setengah matang

 

Kandungan : Parasit toksoplasmosis dan bakteri salmonella.

Risiko :

•  Toksoplasmosis: menyebabkan kerusakan pada organ dalam, sistem saraf pusat, serta kebutaan janin.

•  Salmonella: menyebabkan diare dan dehidrasi. Diare yang terus menerus dapat menimbulkan kontraksi rahim, sehingga membahayakan janin Anda. Sedangkan dehidrasi dapat mengganggu keseimbangan cairan elektrolit di dalam tubuh.

Catatan: Kalau Anda ingin tetap makan daging sapi dan ayam, sebaiknya dimasak hingga benar-benar matang. Dengan begitu, kedua jasad renik ini tidak ‘sempat’ bercokol.

 

C. Sosis

 

Kandungan : Nitrat yang digunakan sebagai pengawet.

Risiko : Terlalu banyak nitrat dikhawatirkan akan menimbulkan suatu kondisi yang disebut methemoglobinemia , yaitu gangguan darah dimana janin tidak menerima cukup oksigen. Pasalnya, karena nitrat bersifat mengikat oksigen.

Catatan : Jangan takut makan sosis. Anda kan tidak akan makan sosis sebanyak 1 kg setiap harinya? Jika hanya makan 1-2 potong sosis, tak usah terlalu cemas.

 

Ini kiatnya!

Sebenarnya, asal pemakaian berbagai zat kimia dalam produk-produk rumahtangga tidak melewati batas, yakni dipakai sesuai dosis yang dianjurkan serta tidak digunakan dalam jangka waktu yang lama dan terus menerus, Anda tak perlu cemas terhadap kesehatan janin Anda.

Proses gangguan pada perkembangan janin terjadi karena akumulasi atau penimbunan zat-zat itu. Akibat terpapar terlalu lama, akhirnya zat-zat kimia tadi tidak bisa lagi dikeluarkan oleh tubuh. Nah, akumulasi dari zat-zat yang toksik itulah yang berbahaya bagi tubuh dan janin.Akibatnya? Ya, janin ikut-ikutan “menyimpan” racun-racun tadi di dalam tubuhnya.

              Bagaimana dengan jasad-jasad renik yang ada di makanan? Yang pasti, waspadai makanan yang tidak higienis. Bisa jadi, makanan itu tercemar jasad renik, seperti bakteri salmonella. Memang, jasad renik yang mencemari makanan memang tidak bersifat akumulatif. Meski begitu, bila Anda terkontaminasi jasad renik melalui makanan, biasanya akan langsung timbul gejala. Misalnya, diare. Padahal, jika ibu hamil diare, janin pun ikut “menanggung” akibatnya. Sebab, diare bisa menyebabkan kontraksi rahim.

 

Laila Andaryani Hadis

Konsultasi ilmiah: Bambang Wispriyono, Apt.,Ph.D, staf pengajar Toksikologi, Departemen Kesehatan Lingkungan, Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Indonesia, Depok.

 

Waspadai Kotoran Hewan

 

              Bagi Anda yang sedang hamil plus gemar memelihara hewan, seperti kucing atau anjing, sebaiknya mulai berhati-hati. Kotoran kucing Anda mungkin saja mengandung parasit toksoplasmosis. Jadi, kalau ingin membersihkan kandang piaraan kesayangan Anda, mintalah bantuan orang lain saja.

 

Hindari Racun Insektisida dengan…

 

•  Mintalah orang lain untuk menyemprot kamar Anda dengan cairan pembasmi serangga. Sebelum Anda masuk kembali ke dalam kamar, tunggu sampai kurang lebih 1 jam.

•  Jika sedang menyemprot cairan pembasmi serangga, tutup rapat-rapat makanan yang ada di atas meja berikut piranti makannya. Wilayah yang jadi tempat penyemprotan musti benar-benar steril dari berbagai barang yang berisiko untuk terkontaminasi zat-zat kimia yang berbahaya bagi Anda dan janin.

•  Bila insektisida digunakan di luar ruang, tutup semua jendela dan matikan pendingin udara. Dengan begitu, uap dari cairan pembasmi serangga tidak bisa masuk ke dalam rumah.

•  Kenakan sarung tangan karet bila Anda ingin berkebun. Ini merupakan cara jitu untuk menghindari kontak kulit dengan residu dari insektisida.

 

 

Cuci, Cuci dan Cuci Lagi

 

              Agar makanan yang Anda konsumsi benar-benar sehat, berikut beberapa tips yang bisa dijalani:

•  Selalu cuci tangan sebelum menyiapkan makanan, sehabis makan dan juga setelah buang air kecil atau besar.

•  Jaga agar makanan matang tidak terkontaminasi makanan mentah. Caranya? Jika Anda sedang mengolah daging mentah, misalnya, jangan sampai tangan Anda yang belum dicuci itu digunakan untuk menyiapkan   atau memegang makanan matang.

•  Gunakan selalu perkakas rumahtangga, seperti panci yang bersih, untuk memasak. Sehabis memasak dan Anda ingin masak makanan lain, cuci bersih-bersih dulu perkakas tersebut.

•  Ganti perkakas rumahtangga (panci, wajan, dan sebagainya) yang sudah berkarat karena dikhawatirkan Anda bisa terkontaminasi kandungan logam.

•  Selalu bersihkan bak cuci piring Anda.

 

Posted by NieOsa at 10:30:19 | Permalink | Comments (3)

Lebih Sehat Hanya dalam Sehari

Nggak ada yang namanya terlambat untuk mengoptimalkan kesehatan kehamilan. Dan yang pasti, Anda bisa mulai pada hari ini juga!

Siapa sih yang tidak ingin kehamilan yang lebih sehat, nikmat dan bahagia? Apalagi, kalau caranya mudah. Anda bahkan bisa mulai saat ini secara bertahap dan sesuai kondisi kehamilan Anda.

Pukul 06.00: Segarnya mandi pagi

              Awali hari dengan mandi pakai air hangat (29-34 ° C). Sebelum mengakhiri acara mandi Anda, siram tubuh dengan air dingin selama 20 detik. Sepele memang, tapi “kejutan” seperti ini akan memperlancar sirkulasi darah dan proses pembuangan racun yang tertimbun dalam tubuh.

Usai mandi, keringkan tubuh Anda dengan handuk yang lembut. Inipun ada aturannya, lho! Lakukan dengan gerakan memutar perlahan. Ditanggung kulit pun jadi segar dan lembut. Hanya saja, hindari daerah perut sebab di sini sedang terjadi peregangan kulit. Salah-salah nanti malah timbul stretchmark (guratan-guratan pada kulit).  

Pukul 07.00: Cermat berbusana

              Wanita hamil, apalagi yang perutnya sudah semakin besar, butuh pakaian khusus. Makanya, pilih baju yang longgar dan mudah dipakai (tanpa ristleting belakang). Juga, ukuran payudara bertambah besar sehingga Anda butuh BH ( breast holder ) yang lebih besar dan lebih mampu menyangga payudara. Selain itu, sepatu atau alas kaki sebaiknya diganti dengan yang bertumit rendah untuk memperkecil risiko tergelincir atau terjatuh.

Pukul 08.00: Sarapan bergizi

              Sarapanlah dengan porsi dan kandungan gizi yang cukup. Bila Anda tidak terbiasa, belum terlambat untuk memulainya. Selain memberi energi, sarapan akan membuat Anda lebih berkonsentrasi dan “efektif” alias terencana dengan baik. Anda pun jadi makin mantap dalam menjalani aktivitas sepanjang hari. Sarapan yang bagaimana sih?

Pilih makanan dan minuman yang tidak banyak mengandung gula dan lemak. Misalnya, roti isi berlapis ( sandwich ) dengan segelas jus buah atau semangkuk potongan buah segar yang diberi saus berbahan dasar yogurt. Susu dan produk olahannya, termasuk yogurt, merupakan sumber vitamin D yang baik untuk pertumbuhan dan kesehatan tulang.

Pukul 09.00: Perhatikan konsumsi cairan

              Selama hamil, penuhi kebutuhan tubuh akan cairan, yaitu dengan minum kira-kira 2 liter air dalam sehari. Hal ini akan membantu kelancaran proses pembuangan racun dari dalam tubuh, serta mencegah atau memperkecil risiko timbulnya gangguan yang biasa dialami ibu hamil, seperti sembelit (sulit buang air besar) dan radang kandung kemih. Bila perlu, beli botol atau gelas besar yang bisa menampung air sebanyak 2 liter. Dengan begitu, Anda akan lebih mudah memantau jumlah air yang diminum setiap harinya.

Pukul 10.00: Jaga sikap tubuh

              Sebaiknya, Anda selalu mengontrol sikap tubuh. Bahkan, segera perbaiki begitu Anda merasa tubuh Anda agak condong ke depan, atau sebaliknya, ke belakang. Kenapa? Kalau tulang belakang terbebani, mau tidak mau sakit punggung akan mendera. Juga, ketika duduk, jaga agar punggung selalu tegak. Lalu, atur alat tulis dan perlengkapan kantor Anda sedemikian rupa agar mudah diraih. Otot yang terlalu lelah atau peregangan otot yang mendadak, misalnya akibat Anda meraih telepon, dapat menimbulkan keluhan berupa kejang otot atau kram.

Pukul 11. 00: Jeli memilih cemilan

              Anda merasa amat lapar, padahal waktu makan siang belum juga tiba? Jangan menyiksa diri, dong. Cari saja cemilan untuk “mengganjal” perut. Ada tapinya nih. Pilihlah cemilan yang kandungan gizinya baik untuk kesehatan. Misalnya, pisang yang kaya mineral potasium atau kalium dapat “mendongkrak” tingkat energi Anda. Atau, aneka olahan biji-bijian dan kacang-kacangan yang merupakan sumber protein dan kalsium penting untuk pertumbuhan tulang bayi, serta   mengandung magnesium yang penting untuk pertumbuhan jaringan baru, memperkecil risiko terjadinya pre-eklampsia (komplikasi kehamilan dengan gejala pembengkakan pada beberapa bagian tubuh yang disertai peningkatan tiba-tiba tekanan darah dan tingginya kadar protein dalam urin) dan berat bayi lahir rendah.

Ada catatan nih. Hindari pengonsumsian kacang tanah, terutama bila Anda atau keluarga Anda punya riwayat kesehatan alergi atau asma.

Pukul 12.00: Menenangkan pikiran

              Sambil menanti waktu makan siang, tidak ada salahnya bila Anda melakukan relaksasi selama beberapa menit. Caranya? Duduklah bersandar, lalu bayangkan pemandangan indah atau gambaran kehidupan yang bahagia bersama si kecil kelak. Kalau perlu, pejamkan mata. Dengan berkurangnya beban pikiran, maka makan siang akan terasa lebih nikmat lagi.

Pukul 13.00:   Makan sesuai kebutuhan

              Ya, makanlah untuk berdua dengan benar. Selama hamil, Anda butuh ekstra kalori, agar tetap bugar dan sehat. Untuk mencapai tujuan tersebut, Anda tidak perlu makan dalam jumlah besar melainkan pilihlah makanan bermutu tinggi dengan jumlah kalori yang cukup. Tidak berlebihan, tidak pula kekurangan. Nah, tanpa mengabaikan zat-zat gizi yang lain, beri pula perhatian khusus pada upaya memenuhi kebutuhan tubuh akan protein, vitamin, mineral, cairan, serta serat. Kenapa sih? Protein dibantu vitamin dan mineral besar manfaatnya untuk tumbuh kembang sel-sel, sedangkan cairan dan serat dibutuhkan untuk mencegah sembelit dan gangguan kehamilan lainnya. Dari mana Anda bisa memperolehnya? Nggak susah. Di antaranya dari hidangan olahan ikan laut dan selada sayuran atau buah segar yang kaya warna.

              Masih ada waktu sebelum bekerja lagi? Manfaatkan waktu luang ini untuk jalan kaki berkeliling selama setengah jam. Bila mungkin, duduklah bersandar dengan kedua kaki diangkat (posisi kaki lebih tinggi dari panggul). Posisi seperti ini dapat mengurangi kemungkinan Anda mengalami varises (pembesaran pembuluh darah di kaki) dan pembengkakan di kaki.

Pukul 15.00: Saatnya minum teh

              Pada saat ini, tingkat energi Anda biasanya sudah amat merosot. Akibatnya, Anda cenderung mengantuk atau lesu. Nah, salah satu cara untuk mengembalikan gairah Anda adalah dengan menikmati secangkir teh herbal, misalnya teh ginseng, serta makanan ringan yang kaya serat (misalnya pisang rebus, atau wafel/panekuk yang dibuat dari gandum utuh). Jenis makanan ini membuat Anda lebih lama kenyang.

Sebaiknya, hindari kue-kue manis atau cokelat, sebab gula cepat diubah menjadi glukosa dan diserap langsung ke dalam darah. Peningkatan kadar gula dalam darah yang cepat ini menyebabkan pelepasan hormon insulin yang cepat pula. Akibatnya, kadar gula darah merosot dengan cepat. Anda jadi lesu dan ingin lebih banyak lagi makan yang manis-manis.

Pukul 17.00:   Berolah tubuh, yuk!

              Asal dilakukan secara rutin, olah tubuh banyak memberi manfaat bagi ibu hamil, seperti meningkatkan stamina, menjaga kelenturan dan kekuatan tubuh dalam beradaptasi dengan perubahan fisik selama hamil. Olah tubuh yang disarankan adalah jalan kaki, berenang, dan senam. Sebaiknya Anda berkonsultasi dulu dengan dokter Anda agar bisa ditentukan porsi dan frekuensi latihan yang paling tepat untuk Anda

Pukul 18.00: Saatnya memanjakan diri  

Luangkan waktu untuk memanjakan diri sendiri. Pada saat ini, lakukan apa saja yang dapat membuat Anda senang. Misalnya, perawatan kuku kaki/tangan di salon, perawatan tubuh di rumah, membaca buku seputar kehamilan, atau mendengar musik. Kegiatan seperti ini dapat mengurangi stres.

Pukul 19.30: Makan malam dengan porsi “ringan”

Setelah mandi dengan air hangat, sempatkan untuk makan malam. Porsinya boleh lebih sedikit dari sarapan atau makan siang. Yang penting, jaga jaraknya hingga paling sedikit 2 jam sebelum tidur. Jadi, tubuh Anda punya cukup waktu untuk mencerna makanan dengan baik. Ini perlu jadi perhatian bila perut Anda semakin besar! Karena, risiko timbulnya rasa panas di dalam dada dan perut akan lebih besar. Ya, makanan yang sudah berada dalam lambung   akan terdesak ke arah kerongkongan akibat rahim yang semakin besar.

Pukul 20.00: Nikmati kebersamaan dengan suami

              Sesekali, tidak ada salahnya bila Anda minta tolong pada suami tercinta untuk memijat Anda dengan lembut, tapi “mantap”. Menurut Wendy Kavanagh , Direktur dari The London School of Massage, pijatan dapat merangsang keluarnya hormon endorfin yang dapat membuat otot-otot yang kejang jadi rileks, mengurangi rasa nyeri, serta mengatasi gangguan sulit tidur dan meningginya tekanan darah.

Namun, selama trimester pertama, sebaiknya Anda tidak melakukan pijatan di seluruh badan. Juga, hindari selalu pijatan di bagian perut, punggung bagian bawah, dan paha bagian dalam. Apa pasal? Pijatan pada daerah tersebut berbahaya bagi janin karena diduga dapat merangsang terjadinya kontraksi rahim. Nah, untuk amannya, sebelum melakukan pijatan apapun, sebaiknya Anda berkonsultasi dulu dengan dokter kandungan Anda.

Pukul 21.30: Latihan menjelang tidur

              Beberapa gerakan senam hamil yang dikombinasikan dengan teknik relaksasi dan pernapasan akan memudahkan proses persalinan Anda kelak. Bagaimana tidak? Otot-otot Anda akan terjaga kelenturannya dan strukturnya juga jadi kuat. Jadi, cobalah untuk melakukan latihan ini menjelang tidur, semampu Anda. Kalau tubuh Anda bugar, pikiran Anda pun tenang.

Pukul 22.00: Selamat tidur….

Hal lain yang juga penting diperhatikan adalah menjaga keseimbangan antara aktivitas dan istirahat. Bila kurang istirahat, Anda akan mengalami tekanan fisik dan psikis. Cuma itu? Tentu tidak. Darah Anda juga akan mengandung lebih banyak zat yang menimbulkan depresi. Jadi, penuhilah dengan baik kebutuhan tubuh Anda yang satu ini. Bila tidur Anda pada malam hari cukup, maka Anda akan merasa lebih bugar dan siap dalam menghadapi rutinitas kehidupan saat bangun keesokan harinya.

 

Dewi Handajani
ayahbunda-online.com

Posted by NieOsa at 10:24:40 | Permalink | Comments (2)

Tuesday, June 13, 2006

Tips Menghentikan Dot Tanpa Penolakan

Bagi kita yang sudah mengalami, menghentikan anak menggunakan dot (seperti halnya juga menghentikan ASI) menjadi saat-saat yang penuh ‘perjuangan’. Perasaan antara ‘harus tega’ dan ‘kasihan’ menjadi satu begitu melihat anak menangis tersedu-sedu hanya karena tidak boleh lagi minum pakai dot.

Jika anda sudah membaca ebook saya ”3 Tahun Pertama yg Menentukan”(http://ebook.balitacerdas.com),tindakan yg akan sangat memudahkan kita dalam mengajarkan disiplin kepada anak, atau meminta anak menuruti apa yg kita inginkan, adalah dengan menerapkan SIGNAL AWAL.

Sekitar 2 minggu yang lalu, ketika anak ke-3 saya (Fuka) tepat menginjak usia 2 tahun 8 bulan,kami memutuskan untuk menghentikan Fuka minum pakai dot, dan BERHASIL dengan sangat memuaskan, tanpa ada penolakan dari Fuka, tanpa ada tangisan tersedu-sedu di malam hari.

Kali ini, penerapan signal awal kami terapkan kepada Fuka dalam waktu beberapa minggu sebelum Hari-H penghentian dot.

Caranya ?

Beberapa minggu sebelumnya, di setiap kesempatan yg memungkinkan saya dan istri sering mengatakan bahwa Fuka sudah besar, sambil pura-pura membandingkan tinggi badan Fuka yang sudah menjadi lebih tinggi.

Misalnya, ”Kemarin Adek Bayi (note: Fuka memanggil dirinya sendiri dengan sebutan Adek Bayi) tingginya segini (sambil menunjuk leher), sekarang sudah nambah tinggi jadi segini (sambil menunjuk kepalanya). Adek Bayi sudah besar ya…”.

Kebetulan ada keponakan yg umurnya baru 1 tahun,namanya Naufal, kami ‘manfaatkan’ untuk membandingkan lebih lanjut. Kami sering mengatakan kepada Fuka, ”Adek Naufal masih kecil banget ya.., makanya sukanya minum pakai dot”. Biasanya Fuka akan mengatakan, ”Dot Adek Bayi dikasihkan ke Adek Naufal aja ya.. ‘kan Adek Bayi sudah besar”. Kemudian kami merespons,
”Iya ya.. nanti kapan-kapan kita kasih ke Adek Naufal aja ya..”.

Dengan melakukan hal diatas beberapa waktu, Fuka mulai ‘terkondisikan’ bahwa dia sudah besar, dan sudah tidak perlu lagi minum memakai dot.

Pada saat Hari-H tiba, sebelum saya berangkat ke kantor suasana pagi kami buat cukup  Menyenangkan, kemudian istri saya mengatakan kepada Fuka,”Mulai hari ini Adek Bayi tidak minum pakai dot lagi. Botol dotnya enaknya digimanain ya?”.

Pertanyaan diatas sengaja dilakukan supaya apa yang akan dilakukan menjadi keputusan dari Fuka sendiri dan bukan paksaan dari orang lain.

Karena sudah terkondisikan, Fuka menjawab,”Botol yang kecil dibuang aja, yang besar dikasihkan ke Adek Naufal”.

Kemudian istri saya mengambil plastik sampah,”Yang kecil dibuang disini, yang besar  dimasukkan ke tas Ayah, nanti sama Ayah dikasihkan ke Adek Naufal”.

Kemudian Fuka diminta membuang sendiri tas plastik sampahnya, dan memasukkan sendiri botol dot besarnya ke dalam tas saya.

Sampai disini proses berjalan sangat lancar. Saya berangkat ke kantor, dan Fuka sudah sadar bahwa dia tidak punya botol dot lagi.

Beberapa jam setelah tiba di kantor, istri saya telephone menyampaikan kalau Fuka agak rewel tidak mau minum susu karena tidak pakai dot. Di telephone saya tegaskan kepada Fuka, ”Tadi pagi ‘kan dot kecilnya sudah dibuang sama Adek Bayi sendiri. Yang besar sudah Ayah kasihkan ke Adek Naufal.Jadinya Adek Bayi harus minum susu pakai gelas dong ya..”.

Awalnya Fuka tetap tidak mau minum susu, tetapi menjelang siang akhirnya mau minum dengan gelas untuk anak balita (yang pegangannya ada dua itu loh..).

Biasanya, masalah terbesar timbul di malam hari pada saat anak terbangun minta minum susu, seperti yang dulu kami alami dengan anak pertama kami, Rihan (kebetulan anak kedua kami, Afi, tidak pernah minum pakai dot). Kamipun telah siap untuk ‘perang’ melawan rasa kasihan yang akan terjadi.

Tetapi untuk kasus Fuka kali ini, apa yang kami khawatirkan tidak terjadi. Kami tidak mengalami masalah di malam hari. Malam itu Fuka terbangun, melihat sekeliling sebentar, kemudian tidur lagi.
Kami sendiri sempat kaget, kok Fuka tidak rewel mencari dotnya lagi.

Kami yakin ini bisa dilalui sebagai hasil yang telah kami lakukan beberapa waktu sebelumnya itu.

Setelah itu semuanya berjalan lancar, Fuka tidak lagi minum susu memakai dot.

Hal positif yang terjadi setelah itu adalah:

1. Fuka mau makan dengan baik, jauh lebih banyak dari sebelumnya.
Biasanya, jika anak terlalu tergantung dengan susu, anak menjadi susah makan. Maunya minum susu terus.
Jika kita orangtua mengikuti terus kemauan anak yang seperti ini, akan sulit  menghentikannya nanti.

2. Fuka tidak mengompol lagi.
Hal ini sangat memberi manfaat. Dengan memuji anak bahwa dia tidak mengompol, rasa percaya diri anak kelihatan meningkat. Setiap kali dia bangga bahwa dirinya bukan anak kecil lagi, sehingga anak menjadi lebih mandiri.

Selain itu, kita tidak perlu mengeluarkan lagi biaya pembelian diapers yang cukup mahal itu (lumayan ‘kan..).

3. Kami bisa istirahat lebih baik karena tidak perlu harus bangun membuatkan susu lagi.

Yang perlu DIINGAT dalam hal menghentikan dot ini, jika anak menjadi rewel, itu adalah hal yang SANGAT WAJAR.

Seperti halnya kita orangtua juga, anak awalnya pasti akan menjadi tidak nyaman dengan perubahan ‘negatif’ yang dialaminya. Tugas kita untuk mencari alternatif kegiatan sehingga rasa tidak nyaman itu bisa dikurangi dan akhirnya bisa ditinggalkan.

Begitu kita memutuskan untuk melakukan penghentian dot, lakukan dengan tegas (BUKAN berarti sambil marah loh!). Jangan sampai kita menyerah begitu melihat anak menangis meminta dotnya. Jika hal ini dilakukan berulang kali, kita akan menjadi sangat kesulitan melakukannya lagi, karena anak merasa bahwa dia bisa merubah apa yang telah menjadi keputusan orangtuanya.

Jadi, untuk menghentikan suatu kebiasaan anak, faktor PENTING dan EFEKTIF yang bisa dilakukan adalah:

1. Pemberian SIGNAL AWAL kepada anak tentang perubahan yang akan terjadi pada dirinya.

2. Tindakan TEGAS tapi tetap dengan menunjukkan kASIH SAYANG sehingga anak memahami bahwa apa yang kita lakukan memang akan terjadi.

3. KERJASAMA orangtua dan pihak lain sehingga tidak terjadi perbedaan dalam memperlakukan anak.

Selamat Mencoba.. dan ditunggu cerita pengalaman anda.

berdasar pengalaman Taufan Surana (taufan@balitacerdas.com)

Posted by NieOsa at 01:56:52 | Permalink | No Comments »

Monday, June 5, 2006

PERKEMBANGAN OTAK ANAK

Hubungan antar sel-sel otak dibentuk dengan adanya saling kirim-dan-terima signal. Signal yang berupa getaran aliran listrik
ini mengalir dari sel yang satu ke sel yang lainnya, dan dengan bantuan zat kimia seperti serotonin, terbentuklah HUBUNGAN
antara sel-sel otak tersebut.

Rangsangan yang terus-menerus, yang anda berikan melalui bentuk kegiatan yang BERULANG-ULANG, akan semakin  MEMPERKUAT hubungan antar sel-sel otak.

Satu sel otak mampu membuat 15.000 hubungan dengan sel otak yang lain. Hubungan yang sangat rumit inilah yang membentuk jaringan antar sel-sel otak.

PENGALAMAN yang diterima oleh bayilah yang akan menentukan bentuk jaringan di dalam otak.

Sejak bayi lahir, jaringan ini akan dibentuk dengan cepat sekali, dan pada usia anak mencapai 3 tahun, otak anak anda akan
membuat kira-kira 1000 TRILYUN hubungan, dimana jumlah ini adalah 2 KALI LIPAT dari jumlah hubungan jaringan otak pada orang dewasa.

Hubungan otak yang densitas/kerapatannya sangat tinggi ini akan tetap dipertahankan sampai dengan umur 10 tahun.

Setelah itu, apa yang akan terjadi ?

Setelah anak menginjak usia 11 tahun, hubungan antar sel-sel otak tersebut akan DISELEKSI secara alami, dimana hubungan yang sering digunakan akan semakin diperkuat dan menjadi permanen, sedangkan hubungan yang tidak pernah digunakan akan diputus/dibuang.

Camkan benar-benar kalimat berikut :

KECERDASAN anak anda ditentukan oleh KUAT dan BANYAKNYA hubungan dan jaringan antar sel di dalam otak anak anda !

Disinilah pentingnya pengalaman pada USIA AWAL/DINI.

Disinilah peran orangtua akan sangat menentukan. STIMULASI yang anda berikan kepada anak anda akan SANGAT menentukan apakah hubungan antar sel-sel otak anak akan diperkuat atau justru diputus dan dibuang.

sumber : milist

Posted by NieOsa at 03:48:31 | Permalink | No Comments »

KELUARGA HARUS MEMPERHATIKAN IKLAN SUSU YANG BEREDAR

Tingkat konsumsi Docosahexanoic Acid (DHA) yang berlebihan akan membahayakan metabolisme tubuh. Sebab tubuh terpaksa dibebani pekerjaan yang lebih berat untuk mengeluarkan asam lemak esensial tersebut.

Spesialis penyakit anak Dr. Utami Roesli MBA, mengutip hasil penelitian yang dilaksanakan di Australia, Amerika Serikat maupun Eropa, bahwa di tiga kawasan negara maju ini, belum dihasilkan efektifitas dari penambahan DHA dalam produk susu maupun makanan bayi dan anak anak termasuk untuk ibu hamil.

“Jadi belum ada anjuran untuk menambahkan unsur asam linoleat dan asam linolenat itu ke dalam susu”, ujarnya

Lebih jauh ditegaskan, seperti juga lemak susu sapi, maka asupan DHA tersebut bukan merupakan ikatan rantai panjang, sehingga masih sulit diserap oleh pencernaan bayi. Terlebih lagi, katanya, karena susu yang akan dikonsumsi ini harus dibuat dengan menggunakan air panas hingga mengalami proses pemanasan. Akibatnya, aktifitas enzim desaturase dan elongase yang memfasilitasi pembentukan DHA dalam tubuh secara otomatis hancur.

Karena itu, Utami, sebagai pakar Air Susu Ibu (ASI) mengingatkan kepada masyarakat, khususnya kaum ibu, supaya jangan terpengaruh terhadap iklan susu dan makanan pendamping ASI yang mengandung DHA dengan iming-iming mampu meningkatkan kecerdasan bayi. “Asam lemak esensial tersebut justru cukup terkandung dalam ASI, bahkan unsur DHA nya tergolong ikatan rantai
panjang yang sangat mudah diserap pencernaan bayi”, ujarnya.

Karena itu dia menganjurkan agar bayi diberikan ASI sejak lahir sampai umur 4 bulan, karena asam lemak ASI juga terdiri dari asam arakidonat.
“Berarti, kandungannya melebihi unsur asam linoleat dan asam linolenat”.

Setelah empat bulan, katanya, bayi dapat diberikan tempe yang mengandung pula asam linoleat maupun asam linolenat karena lemaknya termasuk ikatan rantai panjang. Utami menjelaskan, setelah mencapai umur enam bulan, bayi juga dapat diberikan ikan laut, yang secara alami mengandung pula kedua asam lemak itu tanpa harus mengonsumsi susu formula.

Menyesatkan Ketua Lembaga Peningkatan Penggunaan ASI Rumah Sakit Saint Carolus ini mengakui, semboyan “Empat Sehat Lima Sempurna” yang berlaku sejak dulu dinilai telah menyesatkan masyarakat. “Orang beranggapan konsumsi makanan sehari hari belum sempurna jika tidak minum susu. Susu bukan berarti tidak penting, namun bukan segala galanya”, tegasnya lagi. Dia bahkan melihat iklan susu maupun makanan bayi dan anak anak yang diimplementasi dengan DHA cenderung menyesatkan masayarakat, karena produsen memanfaatkan kebodohan konsumen yang tak memahami manfaat sesungguhnya dari unsur tambahan tersebut.  Sementara, kalangan spesialis gizi di Indonesia umumnya menyatakan masih awam terhadap kandungan DHA dalam susu. Karena sampai sejauh ini, belum pernah dilakukan penelitian tentang manfaatnya.

Dokter Soebagyo Sumodihardjo MSc, pakar gizi dari bagian Ilmu Gizi
Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, mengungkapkan pihaknya baru mengetahui hal itu dari media massa. Ketika pembukaan lokakarya “Pemerataan serta Peningkatan Pemanfaatan Lulusan Pendidikan Tenaga Kesehatan di Sektor Non Departemen Kesehatan dan Kesejahteraaan Sosial” kemarin di Jakarta, dia belum bersedia dimintai komentarnya.
“Saya baru mengkliping dan belum membaca literatur”, ujarnya. Dia berjanji memberitahukan hal tersebut seminggu kemudian setelah segala informasi dikumpulkan dari berbagai sumber.

Spesialis Anak Dr. Sri S. Nasar sebelumnya menginformasikan bahwa overdosis DHA pada manusia,sejauh ini baru terlihat dialami orang Eskimo yang banyak mengkonsumsi ikan laut. Dikatakan bahwa gejalanya berupa perdarahan, mirip flek flek berwarna kebiruan di kulit. “Efek yang lain baru ditemukan pada monyet maupun tikus, tapi gejalanya berbeda”. (junaedi)

Sumber : http://www.bkkbn.go.id

 

 

Posted by NieOsa at 03:36:54 | Permalink | No Comments »