PESAN SANG AYAH
Dahulu kala ada 2 orang kakak beradik. Ketika ayahnya meninggal
sebelumnya berpesan dua hal:
pertama jangan menagih hutang kepada orang yang berhutang kepadamu,
dan kedua jika mereka pergi dari rumah ke toko jangan sampai mukanya terkena
sinar matahari.
Waktu berjalan terus. Dan kenyataan terjadi, bahwa beberapa tahun setelah
ayahnya
meninggal anak yang sulung bertambah kaya sedang yang bungsu menjadi semakin
miskin.
Ibunya yang masih hidup menanyakan hal itu kepada mereka.
Jawab anak yang bungsu: Inilah karena saya mengikuti pesan ayah.
Ayah berpesan bahwa saya tidak boleh menagih hutang kepada orang yang
berhutang kepadaku,
dan sebagai akibatnya modalku susut karena orang yang berhutang kepadaku
tidak membayar sementara aku tidak boleh menagih.
Juga ayah berpesan supaya kalau saya pergi atau pulang dari rumah ke toko
dan sebaliknya tidak boleh terkena sinar matahari.
Akibatnya saya harus naik becak atau andong. Sebetulnya dengan jalan kaki
saja cukup,
tetapi karena pesan ayah demikian maka akibatnya pengeluaranku bertambah
banyak.
Kepada anak yang sulung yang bertambah kaya, ibupun bertanya hal yang sama.
Jawab anak sulung: Ini semua adalah karena saya mentaati pesan ayah.
Karena ayah berpesan supaya saya tidak menagih kepada orang yang berhutang
kepada saya,
maka saya tidak menghutangkan sehingga dengan demikian modal tidak susut.
Juga ayah berpesan agar supaya jika saya berangkat ke toko atau pulang dari
toko tidak boleh terkena sinar matahari,
maka saya berangkat ke toko sebelum matahari terbit dan pulang sesudah
matahari terbenam.
Akibatnya toko saya buka sebelum toko lain buka, dan tutup jauh sesudah toko
yang lain tutup.
Sehingga karena kebiasaan itu, orang menjadi tahu dan tokoku menjadi laris
,karena mempunyai jam kerja lebih lama.
Bagaimana dengan anda?
Kisah diatas menunjukkan bagaimana sebuah kalimat di tanggapi dengan
persepsi yang berbeda
jika kita melihat dengan postif attitude maka segala kesulitan sebenarnya
adalah sebuah perjalanan membuat kita sukses
tetapi kita bisa juga terhanyut dengan adanya kesulitan karena rutinitas kita ..
‘ Berusaha melakukan hal biasa yang dikerjakan dengan cara yang luar biasa ‘
========
Agar ASI lancar di awal masa menyusui
(Diterjemahkan dari artikel “How to Get Your Milk Supply Off to a Good
Start”)
Lisa Marasco, IBCLC
Santa Maria CA USA
Diana West, IBCLC
Long Valley NJ USA
From: NEW BEGINNINGS, Vol. 22 No. 4, July-August 2005, pp. 142-147
Idealnya proses menyusui dapat segera dilakukan begitu bayi lahir. Bayi yang
lahir cukup bulan akan memiliki naluri utk menyusu pada ibunya di 20 - 30
menit setelah ia lahir. Itupun jika ia tidak mengantuk akibat pengaruh obat
ataupun anastesi yang diberikan ke ibu saat proses melahirkan. Di jam-jam
pertama, bayi akan relatif tenang, terjaga dan memiliki kemampuan bawaan utk
melakukan proses latch-on (proses masuknya sebagian besar ke dalam mulut
bayi hingga ia dapat “mengunci” dan menyusu dg baik) dan menyusu dengan
baik. Riset menunjukkan bahwa bayi baru lahir yang diletakkan di perut ibu
sesaat setelah ia lahir, akan mampu mencari payudara ibu dan menyusu dengan
baik dalam kurun waktu kurang dari 50 menit. Memisahkan bayi dari ibunya
sebelum hal tsb dilakukan akan membuat bayi kehilangan kesempatan besar.
Bayi akan mengantuk dan kehilangan minatnya utk menyusu pada ibunya.
Akibatnya proses inisiasi menyusui mengalami hambatan (Righard and Alade
1990; Widstrom et al. 1990; Wang and Wu 1994). Oleh karena itu, pastikan
bahwa bayi mendapatkan kesempatan utk melakukan proses inisiasi menyusui
paling tidak satu jam pertama setelah ia lahir. Hal ini akan menunjang
proses lancarnya ASI di kemudian hari.
Meskipun proses menyusui dapat segera ibu lakukan setelah bayi lahir,
beberapa bayi nampak tidak dapat latch on dengan baik setelah ia lahir. Hal
ini disebabkan pengaruh epidural atau anastesi lainnya yang diberikan ibu
selama masa melahirkan. Beberapa jenis anastesi mengurangi refleks bayi
mencari payudara ibu dan menyusu pada ibunya, juga meningkatnya temperatur
tubuh bayi dan tangisan bayi (Ransjo-Arvidson et al. 2001).
Namun perlu dipahami bahwa jika bayi tidak dapat menyusu setelah ia lahir
bukan akhir dari segalanya. Segera minta bantuan dari ahli laktasi jika bayi
sulit menyusui atau melakukan latch on. Sehingga problem tersebut dapat
segera diatasi. Selanjutnya, semakin seringnya bayi disusui makin
meningkatkan reseptor hormon prolaktin (Lihat kolom di halaman 144.)
Jika menyusui di jam-jam pertama kelahiran tidak dapat dilakukan, alternatif
terbaik berikutnya adalah memerah ASI atau pompa ASI selama 10-20 menit tiap
2 hingga 3 jam sekali, hingga bayi dapat menyusu. Tindakan tsb dapat
membantu memaksimalkan reseptor prolaktin dan meminimalkan efek samping dari
tertundanya proses menyusui oleh bayi. Jika ibu melahirkan di RS atau di
klinik melahirkan, biasanya disediakan breastpump elektrik dan ibu butuh
bantuan menggunakannya. Perawat, konsultan laktasi ataupun bidan dapat
membantu ibu dalam menggunakan alat tsb.
Suasana yang menyenangkan, tenang dan nyaman akan membantu saat-saat
berduaan dan terciptanya bonding antara ibu dan bayi. Meskpun tidak mudah
membuat suasana spt it di RS, namun adanya dukungan, support dan kenyamanan
akan membantu ibu dalam proses makin lancarnya produksi ASI.
Menyusui Pasca Melahirkan dengan Operasi Cesar
Ibu yang melahirkan dengan cara operasi cesar (c-sections) seringkali sulit
menyusui bayinya segera setelah ia lahir. Terutama jika ibu diberikan
anastesi umu. Ibu relatif tidak sadar untuk dapat mengurus bayinya di jam
pertama setelah bayi lahir. Meskipun ibu mendapat epidural yang membuatnya
tetap sadar, kondisi luka operasi di bagian perut relatif membuat proses
menyusui sedikit terhambat. Sementara itu, bayi mungkin mengantuk dan tidak
responsif untuk menyusu, terutama jika ibu mendapatkan obat-obatan
penghilang sakit sebelum operasi. Beberapa penelitian menyimpulkan bahwa
proses melahirkan dengan cesar akan menghambat terbentuknya produksi ASI
(Dewey et al. 2003; Grajeda and Perez-Escamilla 2002; Rowe-Murray Fisher
2002; Hartmann 1987). Meskipun demikian, menyusui sesering mungkin setelah
proses kelahiran dg cesar akan meminimalisasi masalah-masalah tsb. Bahkan
beberapa ibu yang melahirkan dg cesar memiliki produksi ASI yang berlimpah.
Kehebatan Kolostrum
Tiap ibu perlu mengetahui dan menghargai betul betapa berharganya kolostrum.
Kolostrum, cairan bening kekuningan yang sering disebut “Pre-milk”, akan
diproduksi di hari-hari pertama menyusui. Kolostrum, kemudian disusul dengan
ASI “matang”, akan menjaga dan melindungi bayi seperti plasenta saat ia
dalam kandungan ibu. Kolostrum relatif rendah lemak dan karbohidrat, tetapi
kaya akan protein. Kandungan tsb sangat tepat sesuai dengan kebutuhan bayi
di hari-hari pertama. Kolostrum mudah dicerna dan mengandung sel-sel hidup
yang memberikan proteksi terhadap berbagai bakteri, virus dan alergen.
Kolostrum ini akan melindungi bagian dalam usus bayi dan menjaganya dari
absorpsi substansi-substansi yang dapat menyebabkan terjadinya alergi.
Faktor imun seperti IgG dan IgA sangat banyak jumlahnya dalam kolostrum
dibandingkan dengan ASI matang.
Kedua zat imun tsb akan menstimulasi dan meningkatkan sistem imun bayi. Dan
penelitian menunjukkan bahwa manfaat tsb akan terus didapatkan bayi selama
hidupnya. Lebih jauh lagi, kolstrum beraksi sebagai laxative (“obat pencuci
perut”) yg efektif, mulai dari membuang meconium dari usus, hingga
memecahkan bilirubin (substansi yg dapat membuat bayi menjadi kuning). Dua
minggu kemudian, kolostrum akan berubah komposisi menjadi ASI matang. Namun
kondisi tsb tidak terjadi secara sekaligus. Kolostrum akan secara perlahan
berubah menjadi ASI matang. Karena itu ASI yang dihasilkan di saat-saat tsb
terlihat lebih kekuningan dibandingkan ASI yg dihasilkan kemudian.
Terkadang kita jumpai beberapa ibu yang belum dapat menghasilkan ASI di awal
setelah kelahiran bayinya. Ibu-ibu yang tidak melihat kolostrum saat
menyusui bayinya akan merasa khawatir jika dirinya tidak dapat memproduksi
ASI. Namun, kenyataan bahwa tidak terlihatnya ASI saat bayi menyusu, bukan
berarti ASI (kolostrum) tidak keluar. Kolostrum yang dihasilkan ibu umumnya
diproduksi dalam jumlah yang sangat kecil, yaitu sekitar 7.4 sendok teh
(36.23 ml) per harinya. Atau sekitar 1.4 hingga 2.8 sendok teh (6.86-13.72
ml) sekali menyusu. Dan jumlah yang sangat sedikit tsb akan segera diminum
dan ditelan oleh bayi (Hartmann 1987; Hartmann and Prosser 1984; Houston et
al. 1983). Kenyataan bahwa warna dari kolostrum yang bening kekuningan dan
tampak spt air liur menyebabkan kolostrum sulit untuk diidentifikasi.
Sehingga tak jarang ibu yang merasa ASInya belum keluar, padahal ASI
(kolostrum) nya sudah keluar. Memerah ASI di awal-awal pasca melahirkan akan
terasa sulit, karena payudara terasa bengkak. Disini ibu membutuhkan bantuan
dari konsultan laktasi. Selanjutnya seiring dengan waktu dan makin seringnya
ibu memerah ASI, maka ibu akan lebih terampil dalam memerah ASI.
Karena sedemikian berharganya kolostrum, maka pastikan ibu memberikannya ke
bayi meskipun hanya dalam jumlah yg amat sangat sedikit. Kolostrum ini akan
menjadi hadiah yang tak ternilai harganya utk anak. Karena manfaatnya yang
demikian hebat, maka segala macam upaya dalam memberikan kolostrum akan
menjadi hal yang patut diperjuangkan.
Rooming-In (Rawat Gabung)
Banyak RS yang menawarkan pilihan agar bayi dapat terus bersama ibunya
selama 24 jam. Kondisi ini dinamakan rawat gabung. Meskipun selama ini
banyak RS yang masih menerapkan ruangan khusus untuk bayi, terpisah dari
ibunya. Namun riset terakhir menunjukkan bahwa jika tidak ada masalah medis,
tidak ada alasan untuk memisahkan ibu dari bayinya, meskipun sesaat
(Yamauchi and Yamanouchi 1990; Buranasin 1991; Oslislo and Kaminski 2000).
Bahkan makin seringnya ibu melakukan kontak fisik langsung (skin-to-skin
contact) dengan bayi akan membantu menstimulasi hormon prolaktin dalam
memproduksi ASI (Hurst 1997). Karena itu pada tahun 2005, American Academy
of Pediatrics (AAP) mengeluarkan kebijakan agar ibu dapat terus bersama
bayinya di ruangan yang sama dan mendorong ibu untuk segera menyusui bayinya
kapanpun sang bayi menginginkannya. Semua kondisi tsb akan membantu
kelancaran dari produksi ASI.
Susui bayi sesering mungkin
Seperti yang telah diketahui bersama, ibu harus menyusui sesering mungkin
kapanpun bayi menginginkannya. Ini berarti, paling tidak tiap 2 hingga 3 jam
sekali dan tiap 4 hingga 5 jam di malam hari dari 8 hingga 12 kali menyusui
selama 24 jam. Coba kalkulasikan berapa lama bayi menyusu, mulai dari awal
hari menyusu hingga akhir hari. Umumnya bayi menyusu kira-kira 20-40 menit
sekali menyusu, tapi bukan berarti ibu harus melihat jam dan mengukur
lamanya bayi menyusui. Di minggu-minggu pertama menyusui, terutama saat bayi
baru lahir, hari-hari ibu terasa hanya diisi dengan kegiatan menyusui saja.
Saat bayi baru selesai menyusui, ibu harus menyusu kembali. Ini sangat
lumrah terjadi. Sebelum ASI matang keluar, bayi akan terasa begitu rakus
menyusu. Hal ini disebabkan lambung bayi yang begitu kecil, sehingga mereka
mudah lapar.
Makin sering bayi menyusui akan memperbanyak ASI yang diproduksi. Hal ini
disebabkan oleh stimulasi maksimum dari reseptor-reseptor prolaktin yang
akan memicu produksi ASI dalam jumlah sebanyak mungkin. Bulan pertama
menyusui adalah masa pembelajaran utk bayi. Di bulan tsb, ia berusaha
menguasai betul bagaimana teknik menyusui yang tepat. Hingga masuk ke bulan
berikutnya, ia dapat menyusu dengan baik dalam waktu yang singkat. Dengan
selalu berada di dekatnya, Ibu dapat memastikan tanda-tanda awal bayi lapar
(mimik muka tanda haus, dsbnya). Jadi ibu dapat segera menyusuinya sebelum
bayi kelaparan dan menangis karena stres. Jika hal ini dilakukan, ibu dan
orang sekitar ibu akan terhindar relatif jauh dari stres.
Seiring waktu, ibu tidak selalu menghabiskan waktu dengan menyusui sepanjang
hari. Ingatlah bahwa ibu dalam masa pemulihan pasca melahirkan, sehingga ibu
butuh banyak istirahat. Menyusui adalah cara alami untuk memastikan ibu
dapat berisitrahat dengan baik. Terutama di sela waktu menyusui. Ibu dapat
beristirahat saat bayi sedang tidak menyusu. Semakin bertambahnya waktu
juga, bayi akan memiliki pola menyusui. Sehingga ibu dapat mengatur waktunya
dengn baik. Pola menyusui yang bayi atur akan sangat spesifik sesuai dengan
kebutuhannya. Mulai dari kebutuhan emosinya hingga kebutuhan fisiologisnya.
Dan pola menyusui tsb akan terus berubah sesuai dengan pertumbuhan dan
perkembangannya.
Lindungi diri dengan lingkungan yang supportif
Masa menyusui adalah masa yang paling sensitif dalam kehidupan ibu. Baik
secara fisik ataupun emosional. Begitu ibu mulai menyusui, ibu butuh
lingkungan yang supportif, yang mendukung ibu dari berbagai keraguan dan
kritikan. Menyusui memang hal biologis yang wajar. Namun di dalam
masyarakat, kita masih sering menjumpai orang-orang yang tidak nyaman dengan
keberadaan ibu menyusui. Dan orang-orang ini akan banyak melontarkan
pertanyaan-pertanyaan yang sinis seputar produksi ASI ibu. Hal ini
disebabkan oleh minimnya pengetahuan yang mereka ketahui tentang menyusui
dan kadang dipengaruhi oleh anggapan yang salah tentang payudara dari segi
sexual. Disini lah ibu butuh banyak dorongan dan dukungan positif. Jangan
pedulikan tanggapan negatif yang dapat mengganggu kenyamanan dan rasa
percaya diri ibu akan ASI dan menyusui.
Memang tidak mudah menjaga jarak dari orang-orang yang tidak mendukung ibu
dalam hal menyusui. Namun ingatlah bahwa ibu butuh suasana dan lingkungan yg
kondusif demi keberhasilan ASI eksklusif. Ingatlah selalu bahwa bayi ibu
butuh air susu ibu. Ingatlah selalu akan hal ini diatas segala kritikan dan
tekanan. Jika ibu sulit menghadapi berbagai kritikan dan tekanan, mintalah
bantuan suami ataupun orang lain yang dapat membantu ibu untuk menghadapi
hal tsb.
Mungkin ibu berpikir, “Bagaimana jika orang yg tidak mendukung saya adalah
ibu saya atau ibu mertua saya ? Bagaimana cara utk menghadapinya ?”. Banyak
eyang baru yang tidak berhasil menyusui anaknya saat ia bayi. Beberapa eyang
yang sedih akan berupaya sedemikian rupa membantu agar anaknya ataupun
menantunya sukses menyusui bayinya. Namun ada juga eyang yang justru menjadi
defensif. Mereka akan berupaya mempertahankan pendapatnya agar diberikan
susu formula dan menganggap menyusui adalah hal yang menyebalkan. Nah
tahukah anda pengalaman ibu anda ataupun ibu mertua anda dalam hal menyusui
?! Tanyakan hal ini kepada mereka. Dengarkan cerita dan pengalaman mereka
saat menyusui dulu. Dengan demikian, anda mendapatkan informasi, dukungan
ataupun masalah teknis yang mungkin anda belum dapatkan. Hal ini akan
mengetahui bagaimana perjuangan mereka dahulu dan bagaimana anda mengetahui
betul bahwa mereka adalah orang tua yang baik. Dengan menunjukkan empati dan
mendengarkan pengalaman mereka, anda akan mendapatkan dukungan ataupun
masukan yang baik dalam menyusui.
Kewajiban lainnya
Di minggu-minggu pertama menyusui, ibu akan terfokus pada perawatan anak,
menyusui dan merawat diri sendiri. Tanggung jawab lainnya tidak akan terlalu
menjadi perhatian. Jika anda memiliki anak yang lebih besar (akak dari
bayi), anda perlu memperhatikan mereka juga. Padahal anda harus membagi
perhatian utama ke bayi dan anda sendiri. Mintalah bantuan kepada suami
ataupun pengasuh yang akan membantu anda dalam memenuhi kebutuhan utama sang
kakak.
Biasanya teman ataupun kerabat akan mengunjungi ibu di awal-awal pasca ibu
melahirkan. Di saat spt ini ibu seringkali merasa tidak dapat leluasa
menyusui bai ataupun utk beristirahat. Jika hal ini terjadi, katakanlah
secara perlahan dan sopan kepada tamu bahwa ibu butuh waktu untuk menyusui
ataupun istirahat. Jika tamu tsb tetap memaksa utk tinggal, maka cara
terbaik adalah membatasi waktu berkunjung. Atau ibu dapat menjelaskan secara
perlahan bahwa ibu butuh istirahat.
Istirahat di tempat tidur
Tahukah anda bahwa istrihat di tempat tidur di hari-hari pertama menyusui
adalah kunci awal keberhasilan menyusui. Ibu dapat membawa buku atau majalah
ataupun tv untuk dibawa ke kamar ibu. Siapkan juga snack dan minuman di
dekat tempat tidur. Jadi ibu hanya berdiri jika ke kamar mandi. Meluangkan
waktu untuk memanjakan diri sendiri dan menyusui bayi kapanpun ia inginkan,
akan membantu kelancaran ASI. Jika perlu jelaskan ke tiap orang bahwa ini
adalah “perintah dokter” jika ibu butuh justifikasi. Pasca melahirkan,
banyak dokter yang menginstruksikan kepada ibu utk melakukan hal diatas.
Karena meskipun ibu merasa senang dan segar, tubuh ibu tetap butuh istirahat
banyak utk memulihkan diri pasca melahirkan. Jika ibu tidak istirahat di
awal-awal pasca melahirkan, maka beberapa bulan berikutnya akan terasa lebih
sulit. Dan hal ini jelas akan mempengaruhi produksi dari ASI.
Masak dan pekerjaan rumah
Dari sekian banyak tanggung jawab, ada 2 hal yang sebaiknya tidak ibu
lakukan sendiri, yaitu masak dan pekerjaan rumah. Mintalah bantuan teman
ataupun keluarga utk dapat membantu ibu menyiapkan makanan. Jadi jika ada
banyak tamu yang datang membawakan banyak makanan, simpanlah dalam kulkas
utk cadangan makanan ibu nanti. Biasanya banyak tamu yang berpikir jika
mereka membawa makanan akan jauh lebih bermanfaat utk ibu pasca melahirkan.
Pekerjaan rumah, terutama di hari-hari saat ibu melahirkan, akan terasa
sangat menumpuk. Ini bukan waktunya utk ibu memikirkan hal-hal resik spt
ini. Meskipun banyak yang sudah membantu membersihkan rumah dsbnya. Jangan
pedulikan hal-hal yang detail, terutama menyangkut urusan keapikan rumah,
selama masa awal menyusui. Jangan paksakan diri utk membereskan pekerjaan
rumah, terutama di awal pasca melahirkan. Mintalah bantuan orang lain.
Beritahukan mereka dimana letak piring akan menghemat energi ibu daripada
mengerjakannya sendiri. Ingat dan ingatlah selalu bahwa urusan rumah
bukanlah tanggung jawab anda saat ini. Tiap orang yang bertamu akan mengerti
bagaimana rasanya menjadi seorang ibu. Sehingga mereka tidak akan menuntut
rumah selalu terlihat rapi. Seorang ibu menyusui yang mengatakan:
“Memang melakukan sesuatu tidak semudah mengatakan sesuatu. Semua orang
bilang saya hanya boleh menyusui saja. Santai dan jangan memikirkan urusan
rumah. Jangan hiraukan. Konsentrasi menyusui saja. Lupakan urusan lain. Saya
pikir saya tidak akan menghiraukan nasehat itu, Ini sama saja saya
membiarkan diri saya sendiri bermalas-malasan. Padahal saya dapat
melakukannya meski saya harus mengurus dan menyusui bayi saya. Saya tidak
mengerti kenapa tiap orang menyarankan hal tsb”.
Jawabannya hanya satu : Jangan biarkan energi ibu habis untuk hal yang tidak
perlu, meski itu sekecil apapun. Simpan energi ibu untuk menyusui bayi.
Pengasuh pasca melahirkan (Postpartum Doula Care )
Banyak ibu yang memilki suami ataupun keluarga yang begitu mendukung dan
membantu semua urusan ibu. Namun ada hal lain yg ibu butuhkan selain hal
tsb.Selain merawat bayi, ibu juga perlu merawat dan memanjakan diri sendiri.
Terkadang ibu juga merasa kebingungan dalam merawat bayi baru lahir.
Disinilah ibu butuh bantuan dari doula. Doula adalah orang (biasanya wanita)
profesional yg membantu ibu dalam merawat bayi dan memberikan dukungan dalam
menyusui. Banyak juga doula yg ikut membantu ibu dalam proses persalinan,
meski banyak juga yg membantu ibu pasca melahirkan. Doula juga dapat
membantu ibu dalam mengurus rumah, mengasuh sang kakak dari bayi, ataupun
merawat anda. Kehadiran doula bukan hanya utk membantu hal-hal tsb diatas,
tetapi juga membantu memastikan ibu agar tetap percaya diri selama proses
menyusui dengan bayinya.
Saat ibu memilih menyewa doula, tanyakan betul bagaimana filosofinya tentang
perawatan bayi. Apakah ia percaya bahwa bayi disusui kapanpun bayi
menginginkan atau ia lebih meyakini agar proses menyusui dilakukan
berdasarkan jam? Apakah dia lebih suka bayi tinggal sekamar bersama ibu,
atau ia lebih suka bayi dirawat olehnya ? Apakah ia mengerti betul tentang
masalah-masalah menyusui ? Apalah dia menyarankan ibu untuk menemui
konsultan laktasi jika dibutuhkan ? Dengan mengetahui betul filosofi dari
doula yg akan ibu sewa, maka ibu dapat memastikan kelancaran berbagai urusan
di rumah dan proses menyusui. Dan apabila ibu memiliki berbagai pertanyaan
atau sekedar ingin mengetahui berbagai hal seputar menyusui, ibu dapat
menghubungi ahli laktasi.
Makan, minum dan tidur nyenyak
Agar anda memiliki tenaga utk menyusui dan merawat bayi, anda butuh makanan
yang bergizi, banyak cairan dan tidur yang banyak. Jangan melewatkan saat
makan. Bahkan, ibu perlu makan snack bergizi di sela-sela waktu makan.
Secara umum, jumlah dan kualitas makanan sangat perlu diperhatikan bagi ibu
menyusui. Meski tubuh ibu akan membuat ASI yang bagus (berkualitas) meskipun
ibu makan makanan yg kurang gizi. Makan makanan yang bergizi akan
mengembalikan tubuh ibu ke kondisi prima. Karena itu nikmatilah waktu makan
dengan baik.
Minuman juga perlu diperhatikan. Minumlah saat ibu merasa haus. Ingatlah,
minum dalam volume yang banyak tidak akan memperbanyak ASI. Air adalah
cairan terbaik. Meskipun ibu dapat minum the yg tidak berkafein jika ibu
menginginkannya. Buah dan jus jeruk juga sangat bermanfaat karena gizinya yg
baik. Tapi jika anda minum jus yang ada dalam kemasan, pastikan anda membaca
label kemasan. Pastikan tidak ada gula di dalamnya. Gula dalam jus kemasan
hanya akan menambah kalori yang tidak diperlukan tubuh. Beberapa ibu merasa
jika ia minum banyak jus jeruk, maka bayinya menjadi rewel. Demikian juga
dengan susu sapi. Beberapa bayi sensitif thd protein dari susu sapi yg ada
di dalam ASI. Meski hanya sedikit ibu yg mengalaminya.
Ada anggapan bahwa ibu harus minum susu agar dapat membuat ASI. Anggapan ini
tidak benar. ASI dibuat dari berbagai nutrien yg ada dari berbagai sumber.
Jadi bukan hanya dari susu. Banyak ibu yang tidak minum susu dan tidak ada
masalah dalam produksi ASInya.
Selain urusan makan dan minum, hal lain yg perlu ibu perhatikan adalah masa
tidur. Tidurlah kapanpun ibu bisa. Tidurlah saat bayi sedang tidur. Di awal
kehidupannya, bayi masih belum memiliki pola tidur yg teratur. Sehingga
waktu malam ia masih memungkinkan sering bangun dan memotong waktu tidur ibu
di malam hari. Karena itu tidurlah saat bayi sedang tidur. Saat bayi tidur,
biasanya ibu memanfaatkannya utk menelpon, menulis, mengerjakan pekerjaan
rumah dsbnya. Padahal inilah waktu yg tepat utk ibu banyak beristirahat.
Mungkin tidak mudah utk ibu tidur saat bayi tidur. Terutama jika tidak alma
kemudian bayi bangun. Namun seiring waktu ibu akan terbiasa beristirahat dan
mengikuti ritme bayi. Percayalah ibu akan mendapatkan banyak manfaat dengan
istirahat banyak. Apalagi tubuh ibu butuh memulihkan kondisi pasca
melahirkan.
Agar produksi ASI selalu optimal
Menyeimbangkan urusan menjaga produksi ASI agar terus optimal, menyusui dan
mengurus keluarga adalah hal yg tidak mudah. Setiap hari ibu harus memenuhi
kebutuhan bayi, keluarga dan diri sendiri. Terkadang sulit sekali bagi ibu
utk membagi perhatian dan menyeimbangkan semua urusan. Jika hal ini terjadi,
cobalah utk selalu mengingat bahwa ibu telah memberikan yg terbaik utk
keluarga ibu sesuai dengan kemampuan ibu. Jangan pernah memaksakan diri
sendiri. Anda akan kelelahan jika berusaha memaksakan diri. Akibatnya
produksi ASI juga tidak optimal. Bersikap ariflah dalam melalui proses ini.
Ingatlah, anda butuh waktu banyak utk mencintai bayi anda, sosok mungil yg
baru lahir dan butuh waktu singkat sebelum ia tumbuh besar.
Referensi
American Academy of Pediatrics. Policy statement: Breastfeeding and the use
of human milk. Pediatrics 2005; 115(2):496-506.
Buranasin, B. The effects of rooming-in on the success of breastfeeding and
the decline in abandonment of children. Asia Pac J Public Health 1991;
5(3):217-20.
Dewey, K., Nommsen-Rivers, L., Heinig, M., Cohen, R. Risk factors for
suboptimal infant breastfeeding behavior, delayed onset of lactation, and
excess neonatal weight loss. Pediatrics 2003; 112(3 Pt 1):607-19.
Grajeda, R. and Perez-Escamilla, R. Stress during labor and delivery is
associated with delayed onset of lactation among urban Guatemalan women. J
Nutr 2002; 132(10):3055-60.
Hartmann, P. Lactation and reproduction in Western Australian women. J
Reprod Med 1987; 32:543-47.
Hartmann, P. and Prosser, C. Physiological basis of longitudinal changes in
human milk yield and composition. Fed Proc 1984; 43:2448-53.
Houston, M., Howie, P., McNeilly, A. Factors affecting the duration of
breast feeding: 1. Measurement of breast milk intake in the first week of
life. Early Hum Dev 1983; 8:249-54.
Hurst, N., Valentine, C., Renfro, L. et al. Skin-to-skin holding in the
neonatal intensive care unit influences maternal milk volume. J Perinatol
1997; 17(3):213-17.
Oslislo, A. and Kaminski, K. Rooming-in: a new standard in obstetrics and
neonatology. Ginekol Pol Apr 2000; 71(4):202-7.
Ransjo-Arvidson, A., Matthiesen, A., Lilja, G. et al. Maternal analgesia
during labor disturbs newborn behavior: effects on breastfeeding,
temperature, and crying. Birth 2001; 28(1):5-12.
Righard, L. and Alade, M. Effect of delivery room routines on success of
first breast-feed. Lancet 1990; 336:1105-07.
Rowe-Murray, H. and Fisher, J. Baby friendly hospital practices: cesarean
section is a persistent barrier to early initiation of breastfeeding. Birth
2002 Jun; 29(2):124-31.
Wang, Y. and Wu, S. Effect of early suckling and emptying the breasts after
nursing on exclusive breastfeeding. Zhonghua Fu Chan Ke Za Zhi 1994;
29(8):465-7, 509-10.
Widstrom, A., Wahlberg, V., Matthiesen, A. Short-term effects of early
suckling and touch of the nipple on maternal behavior. Early Hum Dev 1990;
21:153-63.
Yamauchi Y. and Yamanouchi, I. The relationship between rooming-in/not
rooming-in and breast-feeding variables. Acta Paediatr Scand 1990;
79:1017-22.