Kata-kata dijudul sering banget kita dengar, namun banyak sekali yang tidak ngeh maksudnya atau bahkan sambil lalu membacanya.
Alhamdulillah sejak kecil aku dididik ibu untuk keras menabung, bahkan sangat kerasnya hingga ketika SD aku hampir sama sekali tidak jajan, semua uang yang masuk aku tabungkan yang waktu itu masih di kantor pos namanya insyallah tabanas.
dan setelah bertahun-tahun apalagi aku hidup di metropolitan pelan namun pasti terkontaminasi dengan budaya konsumtif metropolis, meski tidak fontral.
seringkali aku membeli sesuatu karena seringnya ke Mall n melihat barang bagus, lucu,imut, seru.
dan ketika sampai rumah aku hanya bengong, untuk apasih aku beli ini.
atau kadang aku terperangah ketika mau pindahan kost, banyak banget benda yang sangat tidak aku perlukan memenuhi kardus-kardus yang akan kuboyong pindah.
ketika browsing-browsing dan membaca artikel2 finance juga sempat beberapa kali mengikuti seminar finance. aku terperangah.
wow ternyata budaya metropolis budaya konsumtif yang dihembuskan barat jahat banget.
iklan-iklan yang bombardir seperti tak henti mencekok’i kita untuk melakukan budaya itu. bahkan banyak perusahaan yang seolah menipu kita mentah2 dengan terus meluncurkan produk2 barunya, yang kemudian mengolok2 kita dalam iklannya dengan
“tidak gaul jika tidak menggunakan produk itu tipe sekian”
dan bagai terhipnotis kita membelinya, padahal kita tahu bahwa kita sudah mempunyai produk sejenis meski keluaran lama toh fungsi intinya sama. hingga tidak sadar kita bekerja atau meminta uang ke ortu hanya untuk memuaskan produsen2 itu hingga mereka tertawa terbahak-bahak di tengah tidur panjang kita.
ketika aku merenung, kenapa yah dulu dengan gaji yang sedikit aku juga mampu hidup dan bahagia. kalo dulu mampu berarti sekarang lebih mampu.
alhamdulillah kesadaran itu tumbuh kembali dibantu oleh suami. berkali-kali dia menghalangiku untuk membeli sesuatu dengan mengeluarkan kata-kata sakti itu.
“belilah yang kau butuhkan bukan yang kau inginkan”
dan kini aku lebih menyukai gayaku ketika SD yaitu menabungkan hampir semua gaji ke tabungan. dan mungkin aku hanya mengambilnya hanya cukup untuk beli buku kecil saja. hehehehe sedikit kejam pada diri sendiri tapi insyallah manfaatnya akan kita rasakan kelak.
ini ada artikel bagus dari bapak safir senduk dkk.
MENYADARI PENGELUARAN
YANG TIDAK WAJIB
Oleh: Safir Senduk
Dikutip dari Tabloid NOVA No. 656/XIII
Saya pernah bertemu sepasang suami-istri yang berada pada masa-masa awal perkawinannya. Namanya, sebut saja Yanto dan Lilis. Mereka berdua datang kepada saya sekitar Juni 2000, di mana keduanya berusia sekitar 29 tahun. Belum punya anak, karena mereka berdua masih ingin menundanya sampai sekitar dua-tiga tahun lagi.
Mereka datang kepada saya dengan membawa masalah. Keduanya sama-sama bekerja, dengan penghasilan total sekitar Rp 2 juta per bulan. Total keduanya. Tapi pengeluaran mereka per bulan sekitar Rp 2 juta sampai 2,3 juta. Ini berarti, mereka terkadang juga mengalami defisit, dan defisit itu selalu diambil dari tabungan mereka, sehingga kalau dibiarkan terus, tabungan mereka akan terus menyusut sampai akhirnya habis sama sekali.
Sementara dari pengeluaran tadi tak ada sedikit pun yang ditabungkan. Karena itu, mereka datang kepada saya dengan harapan bahwa saya bisa memecahkan masalah mereka, sehingga tabungan mereka tidak akan habis hanya untuk menutupi defisit bulanan.
Saya menyebut ini sebagai Konsultasi Anggaran. Kami duduk bertiga di sebuah meja bundar, dan saya mulai mengamati catatan pemasukan dan pengeluarannya. Saya menyadari bahwa pada umur-umur seperti ini di mana keadaan keuangan mereka belum baik, mereka harus melakukan sejumlah penekanan pada pengeluaran mereka.
“Kita harus menekan pengeluaran-pengeluaran ini.” Kata saya sambil menunjuk pada kertas yang berisi pengeluaran-pengeluaran mereka.
“Ya… kami setuju,” kata Yanto. Ia menoleh pada Lilis istrinya. “Kami memang harus menekan pengeluaran-pengeluaran kami. Makanya kita datang kepada Anda, Pak Safir.”
Saya melihat pada catatan pengeluaran mereka. Di situ ada 25 pos pengeluaran yang mereka lakukan tiap bulan, hanya untuk biaya hidup saja. Di luar cicilan hutang dan premi asuransi.
Saya mulai menunjuk pada salah satu pos pengeluaran.
“Coret ini…” kata saya. Iuran langganan teve kabel, Rp 145 ribu sebulan.
Lilis membelalakkan matanya. “Lo, nanti kita enggak nonton apa-apa dong…”
Saya mendekatkan kepala saya. “Ada lima stasiun teve Indonesia yang bisa Anda tonton Mbak Lilis,” kata saya sambil menyebutkan kelima stasiun yang pasti sudah Anda tahu juga. “Anda masih bisa tetap nonton teve meskipun Anda tidak berlangganan lagi teve kabel.” Apalagi jumlah stasiun teve juga masih akan terus bertambah.
Konsultasi anggaran memang tidak selalu disukai oleh klien saya. Ini karena kadang-kadang mereka harus menekan pengeluaran-pengeluaran bulanan yang mungkin “berat” untuk ditekan. Tapi untuk menekan defisit mereka, memang harus ada yang dikorbankan.
Lilis masih kelihatan keberatan. Saya menatapnya lekat-lekat. “Anda masih mau defisit atau tidak?”
Lilis tidak bisa menjawab apa-apa. Ia hanya menoleh pada suaminya seperti meminta “pertolongan” dan berharap suaminya ikut bicara. Tapi Yanto hanya merangkul Lilis dan tersenyum kecil sambil berkata pelan, “Enggak apa apa…” Dia bisa mengerti bahwa memang itulah pengorbanan yang harus mereka lakukan untuk sementara.
Saya berkata lagi, “TV kabel itu enggak wajib. Anda berdua mungkin tahu tapi tidak menyadarinya. Malah — maaf kalau saya harus terus terang — kebanyakan pengeluaran-pengeluaran kita sebagai manusia sebetulnya enggak perlu dan enggak wajib.”
“O ya?” Yanto terheran. Ia menoleh ke kertas catatan pengeluarannya.
“Ya,” kata saya. “Lihat ini…” saya mulai menunjuk.
“Keanggotaan fitness. Enggak wajib!”
Saya menunjuk lagi ke pos di bawahnya. “Hiburan, enggak wajib…”
Sebelum saya meneruskan, Lilis memotong, “Lo, bagaimana kita bisa hidup kalau itu semua harus dihilangkan?”
“Saya tidak mengatakan bahwa Anda harus menghilangkan semua pengeluaran yang tidak wajib ini. Yang saya maksud, ada pos-pos yang memang wajib Anda bayar, dan jumlah yang harus Anda bayar memang sudah wajib sebesar itu. Tapi ada pos-pos lain yang memang sifatnya tidak wajib, di mana pada pos-pos ini Anda leluasa untuk menekan jumlah pengeluaran Anda. Tidak perlu dihilangkan kalau memang Anda tidak mau.”
Mereka kelihatan mulai mengerti. Malah sebetulnya, Anda - pembaca - boleh percaya boleh tidak, bahwa banyak sekali pengeluaran-pengeluaran yang kita lakukan sebetulnya sifatnya tidak wajib, sehingga Anda bisa leluasa menekan jumlah pengeluarannya. Sebut saja: Fitness? Rekreasi? Nonton? Semua itu tidak wajib. Paling tidak dari sekali seminggu, bisa Anda kurangi menjadi sekali dalam dua minggu atau sekali sebulan.
Telepon? Enggak wajib. Kurangi bicara yang tidak perlu di telepon. Selain menghabiskan energi, juga menghabiskan biaya.
Makanan? Enggak wajib. Ada banyak bahan makanan yang sebaiknya Anda beli, tapi ada juga bahan makanan yang bisa Anda belakangkan prioritasnya. Biskuit misalnya.
Baju? Enggak wajib. Baju memang penting, tapi Anda mungkin bisa menekan jumlah rupiah yang Anda keluarkan untuk baju kalau memang pengeluaran Anda untuk baju terasa besar. Kalau biasanya beli baju baru sebulan sekali, sekarang coba dijadikan dua bulan sekali.
Mudah-mudahan Anda mengerti maksud saya bahwa hampir semua pengeluaran yang Anda lakukan sifatnya adalah tidak wajib. Sekali lagi, tidak wajib di sini adalah bahwa jumlah uang yang Anda keluarkan sebetulnya tidak harus sebesar sekarang. Anda bisa menekannya kalau Anda mau, terutama apabila Anda selalu mengalami defisit setiap bulan. Anda bisa kalau Anda mau.
Jangan merasa tertekan atau terjebak dengan tulisan saya kali ini. Di lain pihak, memang ada banyak pengeluaran dalam hidup Anda yang tidak bisa Anda ubah dengan mudah atau dengan cepat. Sebagai contoh, kalau Anda membeli kendaraan seperti mobil atau motor, Anda pasti akan dengan rutin mengeluarkan biaya untuk perawatannya, di mana jumlahnya tidak selalu bisa Anda tekan.
Anda bisa mengendalikan pengeluaran-pengeluaran yang tidak wajib itu kalau Anda mau. Hanya saja Anda mungkin belum menyadarinya karena Anda sudah terlalu lama mengeluarkan jumlah uang yang sama untuk membayar pengeluaran-pengeluaran tersebut.
Prinsipnya, bila pengeluaran Anda setiap bulannya selalu lebih besar daripada pemasukan Anda (defisit), hal itu biasanya terjadi bukan karena kecilnya penghasilan Anda, tapi karena sikap Anda sendiri. Dan sikap itulah yang harus berubah terlebih dahulu kalau Anda ingin menghilangkan defisit Anda setiap bulan.
Kalau sikap Anda tidak berubah, maka seberapa pun besarnya penghasilan Anda nantinya, Anda tetap saja akan mengalami defisit. Sampai kapan pun.