Wednesday, August 9, 2006

Hingga Ujung Waktu…Buat Aku Tersenyum

Hingga Ujung Waktu

“Serapuh kelopak sang mawar
yang disapa badai berselimutkan gontai
saat aku menahan diri diterpa dan luka oleh senja
semegah sang mawar dijaga matahari
pagi bermahkotakan embun
saat engkau ada disini
dan pekatpun berakhir sudah
akhirnya aku menemukanmu
saat aku bergelut dengan waktu
beruntung aku menemukanmu
jangan pernah berhenti memilikiku
hingga ujung waktu
Saat aku berkayal denganmu dan janji terukir sudah
jika kau menjadi istriku nanti
pahami aku, saat menangis
saat kau menjadi istriku nanti
jangan pernah berhenti memilikiku…
hingga ujung … waktu”

Buat Aku Tersenyum

“bila kulelah tetaplah disini jangan tinggalkan aku sendiri, bila kumarah biarkan kubersandar jangan kau pergi untuk menghindar… rasakan resahku dan buat aku tersenyum dengan tawa candamu walaupun tuk sekejap..
Karena hanya engkaulah yang sanggup redakan aku
karena engkaulah satu-satunya untukku “

***

Dulu jauh sebelum jadian Rochmat memberikan hadiah album 7 des milik sheila ini ke Ernie…
hehehe.. dilihat-lihat ternyata sampai juga tuh isinya dengan langkah ini… seolah pesan tak terucap yang ingin disampaikan …

 

Posted by NieOsa at 09:46:49 | Permalink | No Comments »

Ibu..bukan hanya diri, kertas dan kompi saja.. tapi juga dirimu…

5 jam perjalanan. pemandangan yg biasa indah dinikmati semuanya kosong.
berbagai agenda menggelembung di otak semuanya berputar.
3 bulan yg lalu, semuanya dimulai, rencana mulai disusun.
diskusi hanya pada diri, kertas dan kompi.
semuanya disusun bagai sebuah event organiser menyusun sebuah acara untuk orang lain. kering.
tak ada sentuhan diskusi melunak.
ya pada diri, kertas dan kompi.
aku tahu aku penat.

pulang 1 bulan jelang hari H memang untuk itu, untuk mempersiapkan segalanya.
dan aku tahu medan begitu berat.
karena kerja hanya antar diri, kertas dan kompi ta ada sentuhan hangat antar hati.
ya aku tahu aku gamang.

deret keluarga terbayang, keluarga budhe pertama, jelas ga mungkin diajak rembug, mereka sibuk dengan urusannya yang setumpuk.
keluarga budhe kedua jelas ga bisa mereka udah pusing dengan berbagai masalah.
keluarga sendiri ?
ya kembali hanya diri, kertas dan kompi.

bis sudah berganti ke becak.
perjalanan semakin dekat dengan pijak.
akhirnya memang harus aku yg bertindak.
meski aku tahu aku capek.

badan tidak lagi di becak, sudah terdampar di kursi ruang tamu rumah.
air wudhu masih basah.
deret do’a itu yg bisa menjadikan semuanya lunak.

2 wajah muncul dalam renung, mbak sepupu.
“apa yg mesti dipersiapkan .. ibumu ngasih amanah dalam mimpiku untuk membantumu…”

aku sedikit tersentak.
kemudian aku tersadar,
ya benar tidak hanya diri, kertas dan kompi
tapi juga masih ada ibu… dan tentunya Allah.

Posted by NieOsa at 05:37:44 | Permalink | Comments Off