Managemen Keuangan Keluarga
Untuk keluarga muda seperti kami, managemen keuangan sangatlah penting. berbagai referensi buku dsb tamat dibaca.
buku manangemen keuangan yg terbitan malasya mengungkap bahwa belanja kebutuhan konsumtif (sehari-hari) adalah setelah semua dana masuk ke kas tabungan dan pembayaran berbagai hal. tabungan dianggap pula sebagai hutang/kewajiban bayar seperti bayar PLN, TELP dsb.
jadi merubah paradigma sebelumnya bahwa musti kebutuhan dulu baru kl ada sisa ditabung.
untuk wacana selanjutnya adalah : kekayaan suami istri musti dipisahkan sejak awal, barang-barang/aset harus jelas dari awal itu milik istri/ suami. hal ini untuk save ketika terjadi perceraian. hmmm bagus juga. dua wacana diatas menjadi patokan kita meskipun tidak dipakai total.
Managemen Keuangan Keluarga Mama
wacana selanjutnya adalah dari keluarga Mama (Ibu Rochmat).
keluarga dengan 6 putra dan 1 putri angkat (keponakan yang dianggap sebagai anak). melihat dari banyaknya anak tampak bakal kacau keuangannya apalagi anak2 mereka umurnya tidak terpaut jauh. hanya maxmimal jaraknya 2 tahun.
setelah bertahun-tahun berumah tangga, puncaknya ditahun 2006 ini, 3 anaknya menikah dan rencana awal sebelum ada rencana anak menikah papa sudah berencana menaikkan haji mak (ibu papa). rencana mendadak soal pernikahan bakal membuat syok jika managemen keuangan keluarga Mama tidak kuat.
disinilah letak pembelajaran itu buat kami putra & putri mereka.
kuncinya ternyata simple aja :
dari sebelum lahir anak-anak, mama sudah mulai menerapkan menabung untuk anak-anak, dengan manyisihkan misal 100 ribu perbulan, ini wajib.
begitupun ketika papa dapat uang tambahan mesti ada sedikit yang disisihkan untuk masuk tabungan anak itu , ketika anak pertama lahir mulailah mama membuka tabungan sendiri untuk anak itu. dengan tetap melanjutkan menabung ditabungan anak sebelumnya, jumlah yang ditabungkan sama. begitupun ketika anak kedua lahir dan seterusnya hingga anak-anak mereka besar. tabungan ini tidak akan diambil sampai si anak kuliah/ menikah.
untuk biaya sekolahnya diluar yang masuk tabungan tadi.
wah ternyata ampuh juga. meski sedikit tapi coba kita hitung2 aja :
dalam satu tahun ajah 100.000 X 12 = 1.200.000
kalikan 18 tahun X 1.200.000 = 21.600.000
tuh kan lumayan juga untuk bekal kedepan si anak.